Cerita 17 Tahun Dewasa

Kumpulan cerita 17 tahun, cerita dewasa, cerita, cerita sex, cerita seks, cerita cerita seks

Monday, 19 November 2007

Wah... !!!

Terima kasih kepada rekan-rekan yang telah mengirimkan tanggapannya,
baik yang berisi penilaian positif maupun negatif. Juga perlu saya
jelaskan sekali lagi bahwa cerita yang dibuat semuanya berdasar pada
cerita nyata saya, maupun teman serta sahabat-sahabat saya.

Adapula yang saya ambil dari kisah nyata beberapa responden yang saya
nilai baik untuk diceritakan karena ada kejelasan sifat dan karakter
dari responden tersebut. Mudah-mudahan keterangan saya ini bisa menjawab
beberapa email yang menanyakan benar atau tidaknya cerita yang saya
ceritakan tersebut terjadi.

Berikut akan saya ceritakan pengalaman pertama saya dalam orgy sex.
Peristiwa ini baru terjadi beberapa hari kebelakang, tepatnya tanggal 22
September 2004. Kecuali nama saya, saya samarkan nama-nama yang ada
dalam cerita ini.

*****

22 september 2004, pukul 15.25, suasana di kantor mulai terlihat menurun
aktifitasnya. Beberapa staff dan karyawan lain ada yang mengobrol untuk
menghabiskan waktu. Harry dan Leo, teman kerja dari Divisi Marketing,
tiba-tiba datang ke ruangan kerja saya.

"Hei, Roy! Sibuk nggak?" tanya Harry kepada saya.
"Tidak. Ada apa?" kata saya sambil membereskan beberapa berkas kerjaan
saya yang sudah selesai.
"Kamu ada waktu nggak nanti sore lepas kerja?" tanya Harry sambil mendekat.
"Memangnya ada apa, sih?" tanya saya sambil menatap Harry dan Leo
bergantian.

Mereka saling pandang lalu tersenyum.

"Nanti sore kami ada acara khusus dengan 3 kolega bisnis..." kata Leo
sambil tersenyum.
"Karena kami kurang satu orang, maka kami ajak kamu..." sambung Leo lagi.

Saya mengerenyitkan alis karena belum mengerti maksud mereka.

"Siapa mereka? Acara khusus apa?" tanya saya.
"Pokoknya kamu ikut saja deh. Dijamin puas..." kata Leo sambil menatap
Harry.

Lalu mereka berdua tertawa. Saya juga ikut tertawa walau tidak mengerti
apa-apa.

"Mana bisa menentukan sesuatu kalau saya tidak tahu apa yang akan
dilakukan?" tanya saya.
"Kami ada janji bertemu dengan 3 orang staff Marketing Carrefour untuk
memperlancar bisnis..." bisik Harry ke telinga saya.
"Lalu apa urusannya dengan saya?" tanya saya lagi.
"Mereka semua wanita, Roy.. Masa sih nggak ngerti juga?" kata Harry.

Saya mulai bisa menangkap arah pembicaraan mereka.

"Maksudnya acara khusus itu apa?" tanya saya lagi.
"Begini, Roy..." kata Leo.
"Ini bukan kali pertama kami have fun dengan mereka.. Ngerti, nggak?!"
tegas Leo sambil tersenyum menatap saya.

Saya mengerti maksud mereka.

"Ngerti..." kata saya sambil tersenyum.
"Jam berapa? Dimana?" tanya saya.
"Ketemu mereka jam 7 di hotel Senen," kata Harry.
"Baiklah, saya ikut..." kata saya.

Akhirnya kami bertiga tersenyum penuh arti. Setelah beralasan ada
pertemuan bisnis kepada istri, saya dan Harry serta Leo segera meluncur
ke hotel Senen menjelang jam 7. Disana, sekitar jam 6.45, kami bertemu
dengan 3 wanita relasi bisnis Harry dan Leo. Saya dikenalkan kepada
mereka. Mereka adalah Henny, 25 tahun, singel, Rita, 29 tahun, menikah,
dan Shelly, 23 tahun, singel. Penampilan ketiga wanita tersebut sangat
menarik sebagai wanita karier. Kecuali Rita yang agak gemuk, penampilan
mereka sangat ramping dan sedap dipandang lengkap dengan dandanannya.

"Kita makan malam dulu atau bagaimana, nih?" tanya Leo.
"Tidak usahlah, kami sudah banyak ngemil tadi di kantor," kata Shelly
sambil tersenyum ke arah saya.

Saya balas senyum. Akhirnya setelah booking satu ruangan, kami segera
masuk. Terus terang saja waktu itu saya sangat bingung harus bagaimana
karena saya sama sekali belum pernah melakukan hal seperti ini. Saya
banyak diam jadinya.

"Sudah berapa kali ikut, Roy?" tanya Shelly sambil duduk merapat kepada
saya.
"Ini pertama kali," kata saya sejujurnya sambil tersenyum.

Shellypun tersenyum manis. Waktu itu saya lihat Harry dan Rita sudah
mulai berciuman di kursi. Tangan mereka sama-sama aktif saling mengelus,
mengusap dan meremas tubuh pasangannya. Sedangkan Leo dan Henny terlihat
saling membuka pakaian masing-masing di atas tempat tidur besar. Setelah
benar-benar telanjang bulat mereka langsung berguling berpelukan sambil
tangan mereka bergerak bebas di tubuh pasangannya. Melihat hal itu,
kontol saya mulai bangkit. Benar-benar pemandangan yang membuat
kelelakian saya tergugah.

"Kok diam saja sih, Roy..?" kata Shelly sambil naik ke pangkuan saya.

Dengan tanpa ragu, mungkin sudah terbiasa, Shelly langsung melumat bibir
saya dengan panas. Sementara tangannya bergerak membuka semua kancing
baju saya. Sayapun membalas ciuman Shelly dengan panas pula. Tangan saya
mulai meremas buah dada lalu membuka semua kancing kemeja Shelly. Tak
tanggung, BH-nya juga segera saya buka.

"Mmhh.. Mmhh..." desah Shelly disela-sela kami berciuman ketika tangan
saya meremas buah dada dan memainkan puting susunya.

Tak lama Shelly langsung turun dari pangkuan saya. Dibukanya rok mini
dan celana dalam mini yang dia pakai. Sayapun demikian. Saya buka
seluruh pakaian sampai kami sama-sama telanjang. Shelly langsung memeluk
saya dan kembali mencium bibir saya dengan panas sambil tangannya
meremas dan mengocok pelan kontol saya. Rasanya sangat enak.. Sayapun
balas ciuman Shelly sambil meremas pantat kenyalnya. Kontol saya
sesekali menusuk perut langsingnya.

Ciuman Shelly lalu turun ke dada saya, dijilat dan digigit kecil puting
susu saya, lalu lidahnya makin turun ke perut. Lidahnya berhenti ketika
menyentuh bulu kemaluan saya yang agak lebat. Tangannya tetap mengocok
pelan kontol sambil menatap mata saya. Kemudian ketika mulut Shelly
mengulum, menjilat dan menghisap kontol saya, terasa sangat hangat dan
nikmat yang tak bisa dikatakan seperti apa. Apalagi ketika sesekali
Shelly melepas hisapannya lalu mengocok kontol saya dengan keras, lalu
menghisapnya lagi.. Rasa nikmatnya benar-benar tak bisa saya ungkapkan.
Saya hanya bisa terpejam dan memompa kontol saya keluar masuk mulut
hangat Shelly.

"Gantian dong, Roy..." kata Shelly sambil bangkit lalu memeluk dan
melumat bibir saya. Saya mengangguk.
"Dimana?" tanya saya.
"Di ranjang saja..." kata Shelly sambil tangannya menarik tangan saya ke
ranjang.

Saat itu Leo sedang menyetubuhi Henny. Shelly segera telentang di
samping tubuh Henny, sayapun langsung membuka pahanya lalu lidah saya
bermain menjilati semua sudut memek Shelly yang bersih tak berbau.
Desahan dan erangan serta geliat tubuh Shelly sangat jelas ketika
menikmati nikmatnya dijilat memek. Sesekali tangannya meremas rambut
saya lalu mendesakkan kepala saya ke memeknya..

"Cepat naik, Roy.. Setubuhi saya!" pinta Shelly dengan nada bergetar.

Sayapun lalu bangkit dan segera memasukkan kontol ke memek Shelly yang
sudah sangat basah sehingga memudahkan masuknya kontol. Tak lama saya
dan Shelly sudah bermandi peluh dihiasi dengan desah dan erangan
kenikmatan yang keluar dari mulut kami seiring dengan keluar masuknya
kontol saya di memek Shelly. Ada suatu hal yang lebih memanaskan suasana
ketika saya asyik menyetubuhi Shelly entah sudah berapa posisi,
tiba-tiba Henny yang sedang disetubuhi Leo disamping kami, tangannya
memegang pundak saya lalu menarik leher agar mendekati wajahnya,
kemudian dilumatnya bibir saya habis. Saya membalas ciumannya sambil
tetap menyetubuhi Shelly. Sedangkan tangan saya satu meremas buah dada
Henny yang sedang asyik disetubuhi Leo. Hal ini tambah memberikan suatu
energi buat saya untuk memacu birahi.

"Roy, gantian..!" tiba-tiba Leo menepuk pundak saya sambil melepas
kontolnya dari memek Henny.

Tanpa banyak cakap sayapun mencabut kontol saya dari memek Shelly. Tak
lama Leo sudah mulai menyetubuhi Shelly. Ketika saya mau mengangkangi
tubuh Henny, tiba-tiba Henny bangkit lalu meraih kontol saya yang masih
basah oleh cairan memek Shelly. Dikocoknya kontol saya lalu mulutnya
yang agak tebal menghisap dan menjilat kontol saya.

Di sudut terlihat Harry sedang memompa kontolnya di anus Rita. Rita
terpejam entah merasakan apa. Harry terpejam sambil terus memompa
kontolnya dengan cepat, sampai akhirnya terlihat Harry mencabut
kontolnya dari anus Rita lalu tampak air mani Harry muncrat di pantat
Rita. Harry terkulai lemas sambil memeluk Rita dari belakang di atas kursi.

"Ohh.. Fuck!! Ohh," terdengar teriakan lirih Shelly ketika mendapat
kenikmatan ketika kontol Leo keluar masuk memeknya.
"Masukkin sini, Roy..." pinta Henny sambil merebahkan dirinya menyamping.

Jarinya dimasukkan ke lubang anusnya. Sejenak saya hanya diam, ragu
karena tidak pernah melakukannya. Tapi dorongan nafsu yang kuat akhirnya
menghilangkan keraguan saya itu. Saya ludahi tangan lalu dioleskan ke
kepala dan batang kontol saya agar licin. Lalu secara perlahan saya
susupkan kepala kontol saya ke lubang anus Henny. Mata Henny terpejam
sambil memegang batang kontol saya. Lama-lama kepala kontol saya masuk
ke anusnya, lalu perlahan saya tekan lebih dalam lagi sampai akhirnya
tigaperempat bagian batang kontol saya masuk anusnya. Perlahan saya
keluar masukan kontol di anus Henny. Mulanya tampak Henny menggigit
bibir, tapi lama-lama matanya terpejam dan terdengar desahan kenikmatan.

"Ohh.. Sshh..." desah Henny sambil menggoyang pantatnya.

Wahh..!! Merupakan suatu pengalaman yang luar biasa.. Saya merasakan
rasa nikmat yang sangat luar biasa ketika anus Henny dengan sangat ketat
menjepit ketika saya memompa kontol di anusnya. Sementara Hennypun
tampak menikmati posisi seperti ini. Sewaktu saya masih merasakan
nikmatnya kontol keluar masuk anus Henny, terdengar Leo mengerang
sewaktu air maninya menyembur di dalam memek Shelly.

"Jangan dulu dicabut, Leo! Aku juga mau keluar!" kata Shelly dengan
suara serak tertahan. Pinggulnya bergoyang cepat sambil mendesakkan
memeknya ke kontol Leo agar masuk lebih dalam.

Tak lama, "Ohh.. Fuck! Fuck! Mmhh..." erang Shelly mencapai orgasme.

Tubuh lunglai Leo ambruk memeluk tubuh Shelly. Sementara saya terus
memompa kontol di lubang anus Henny. Desahan dan erangan nikmat kami
terus terdengar. Sampai saatnya saya merasakan ada dorongan yang ingin
keluar dari kontol saya. Saya pompa kontol saya makin keras.

"Saya mau keluar..." kata saya sambil mata terpejam.

Saya tekan kontol saya dalam-dalam sampai hampir masuk semua ke dalam
anus Henny. Lalu, croott! Croott! Croott! Air mani saya keluar banyak di
dalam anus Henny. Kontol saya terasa makin hangat di dalamnya. Henny
tersenyum.

"Bagaimana rasanya?" tanya Henny dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
"Wahh.. Enak sekali..." kata saya sambil mencabut kontol saya perlahan.

Tampak air mani saya banyak menempel di batang kontol saya, lalu tampak
pula air mani yang keluar dari lubang anusnya. Henny bangkit lalu meraih
sprei dan mengelap air mani di anus dia serta kontol saya. Malam itu
kami melakukan dua kali persetubuhan dengan berganti pasangan. Hanya
sekitar 3 jam kami menikmati malam itu.

Setelah berpakaian, saya bertukar kartu nama dengan mereka. Lalu kami
pulang. Entah kapan lagi bisa ada ajakan khusus seperti itu lagi..

Vonny dan Nadya

Sebelumnya aku minta maaf bila ada kata-kata dari aku yang kurang tepat,
jadi aku mohon maaf yah. Aku adalah seorang mahasiswa dari universitas
swasta di Bandung. Pada saat aku SMU, aku dikenal sebagai lelaki yang
"abuy" (anak buaya), memang sih kata cewek-cewek atau mantan-mantan
cewekku, saya tipe cowok yang romantis, dengan body yang sangat mendukung.

Pada waktu aku kelas 3 SMU menjelang Ebtanas, aku belajar bersama teman
wanita yang bernama Vonny dan Nadya, ketika itu aku berlajar bersama,
dan tidak sedikit pun aku berpikir untuk bermacam-macam dengan mereka
berdua. Memang sih banyak cowok-cowok yang /"sirik"/ padaku, karena aku
bisa dekat dengan mereka berdua, yang termasuk /seleb/ di sekolah ****
(edited) di kotaku, yang penting itu sekolah swasta terkenal di Bandung.
Pada waktu itu acara belajar itu dilakukan oleh kami bertiga di rumah
Vonny. Pada waktu itu jam menunjukkan sekitar pukul 18:00, ketika aku
sedang dalam perjalanan menuju rumah Vonny. Hujan turun deras sekali,
dan mengakibatkan aku terpaksa berhenti untuk menunggu hujan tersebut
(maklum ketika itu aku memakai motor). Tapi apa boleh buat, karena aku
sudah mempunyai janji dengan mereka berdua untuk belajar bersama, yah..
aku berani berkorban meski hujan itu belum reda.

Dan akhirnya aku pun sampai di rumah Vonny dengan basah kuyup. Tiba-tiba
Vonny keluar dari rumahnya karena mendengar suara motorku, maklum ketika
itu aku memakai motor NSR yang cukup berisik untuk didengar. Tiba-tiba
pun Vonny menghampiriku untuk membukakan pagar, agaraku bisa masuk, dan
secara otomatis Vonny pun menjadi basah kuyup, dan terlihatlah olehku
pemandangan yang menggiurkan. BH-nya yang terlihat jelas olehku, dan
kuperkirakan ukurannya cukup besar (36B) dan dia waktu itu memakai BH
berwarna hitam, jadi terlihat jelas olehku. Setelah itu aku pun masuk ke
rumahnya, dan permisi ke Vonny untuk ke toilet untuk membersihkan
badanku akibat hujan tadi. Ketika aku mandi terdengar Vonny mengetuk
pintu dan memanggilku untuk memberikan handuk, aku pun membuka pintu dan
mengambil handuk tersebut.

Setelah selesai mandi aku keluar dengan hanya memakai handuk saja. Aku
mencari Vonny untuk meminjam pakaian kakaknya yang kebetulan sedang di
luar kota. Aku melihat-lihat rumahnya, dan kurasakan tidak ada satu
orang pun di rumahnya. Cuek saja, aku pikir. Dan aku pun dikagetkan oleh
suara seseorang yang memanggilku, ketika kulihat, dia adalah Nadya, yang
entah kapan datangnya. Kemudian dia memberikan baju kepadaku, aku sempat
kaget dibuatnya, karena aku tidak tahu dia kapan datangnya. Aku pun
kembali ke kamar mandi untuk memakai baju ini. Dan ketika aku sedang
ganti baju, tiba-tiba Vonny masuk, dan terkejut sekali karena menduga
aku sudah tidak ada di dalam (maklum pintu kamar mandi lupa saya kunci).
Vonny berkata dengan wajah panik, "Sorry yah Yon," dan dia langsung
beranjak keluar dan aku pun melanjutkan memakai pakaian itu.

Setelah selesai, aku pun beranjak dari situ. Aku keluar ke arah ruang
tamu dan melihat mereka sedang bersiap-siap untuk memulai belajar
bersama. Aku sempat melihat wajah Vonny yang sedikit canggung. Setelah
itu aku duduk dan mengeluarkan buku yang telah kubawa. Setelah
beberapalama belajar, entah apa yang merasuki otakku ini sehingga
membuat si "Joni" berdiri. Pada saat itu Vonny minta maaf padaku atas
kejadian tadi, dan dengan berbisik dia agar tidak memberitahu pada
siapapun juga, aku pun mengiyakannya. Ketika itu Nadya mengajak untuk
menonton VCD yang baru dipinjamnya untuk melepas suntuk dalam belajar,
dan kami pun menuju kamar Vonny. Kami bertiga pun mulai menonton film
tersebut. Setelah beberapa lama kami menonton, terlihatlah suatu adegan
yang "hot", kami betiga hanya diam saja, sambil berpandang-pandangan.
Aku melihat Nadya yang sudah mulai kegelisahan, mungkin karena melihat
adegan tersebut, dan terlihat Vonny yang dari tadi diam saja, tetapi dia
seperti mulai terangsang oleh adegan tersebut.

Aku pun melirik ke arah Vonny, dan tanpa dia sadari dia mengusap-ngusap
ke arah kemaluannya, dan sedikit-sedikit berdesah kecil, "Sshh.. ahh.."
hal ini membuat si "Joni" beranjak dari tempatnya. Timbul hatiku untuk
mengerjai mereka berdua. Aku menggeserkan posisi dudukku ini untuk
mendekatkan ke mereka berdua. Aku pun memberanikan diri untuk
mengelus-elus pahanya yang montok dan putih mulus itu. Dia pun hanya
diam saja, seakan akan menikmati elusan itu. Nadya melihat dan ikut
terangsang juga, ketika itu Nadya nekad untuk mendekat padaku, dan
tiba-tiba dia mengecup bibirku dengan hangat, dan aku pun membalas
dengan manis ciumannya. Ciumannya yang sangat lembut itu membuatku
semakin membabi buta. Aku pun meremas dada Nadya yang masih terbungkus
oleh BH, dan Nadya pun sangat menikmatinya. Tiba-tiba aku mendengar
desahan dari Vonny, "Ssshh.. ahh.. puaskan aku malam ini, Yon..
pleassee, aku udah nggak tahannich."

Aku menyuruh mereka membuka pakaiannya satu persatu. Mereka pun dengan
cepat membuka pakaiannya. Lalu Nadya melucuti pakaianku, dan ketika
membuka celanaku mereka terbelalak, karena melihat punyaku itu yang
cukup besar (18 cm). Dengan cepat Vonny melahap penisku yang sudah
tegang dari tadi. Saat Vonny melahap penisku itu, aku terus menjilati
puting susu Nadya yang sudah mulai mengeras, dan Nadya menggelinjang
keenakan. Saat itu aku menyuruh Nadya untuk terlentang di ranjang, kini
aku mulai menjilati kemaluannya yang sudah mengeluarkan bau yang harum
dari kemaluannya. Aku terus menjilatinya dengan buas, dengan
sedikit-sedikit aku mengocok-ngocok dengan jariku, dan dia pun
menikmatinya. Dia menyuruhku untuk memasukkannya ke vaginanya, "Ayo
Yonn, masukin dong itunya, aku udah nggak sabaran nunggunya," aku
berkata, "Iya sayang, sabar yah.." tiba-tiba Vonny melepaskan kemaluanku
itu dari dalam mulutnya dan membimbing batanganku itu masuk ke dalam
liang milik Nadya yang sudah basah sejak tadi.

"Bless.. bless.. bless" batanganku pun masuk setengahnya, dan aku
menggoyangkan maju-mundur secara perlahan-lahan dengan bantuan Vonny
yang terus memelukku dan menciumku itu. Tiba-tiba Nadya menjerit
kesakitan karena batang kemaluanku itu terlalu besar untuk masuk ke
dalam liang senggama miliknya. Aku terus berusaha, dan akhirnya batangku
itu pun berhasil amblas semuanya di dalam, dan terasa olehku cairan
hangat yang keluar dari kemaluan Nadya.

"Ahh.. ahh.. ah.. Nadya.."
Setalah 20 menit aku melakukannya bersama Nadya, sekarang giliran Vonny
yang sudah tak tahandengan /horny/-nya itu. Aku pun mulai memasukkan ke
liang Vonny yang sangat menggodaitu, "Bless.. bless.." amblaslah sudah
batanganku itu di dalamnya. "Ah ah ah.." desahnya. Aku merasakan dia
sudah akan orgasme, tapi memang benar dia mendesah, "Yonn.. aa.. kuu
maa.. uu.. keeluarr.." Lalu aku berkata, "Tahan yah say.. bentar lagi,
aku pun maukeluar nich.." Dan setelah beberapa lama dia pun orgasme, dan
mengeluarkan cairan hangat yang terasa olehku. Segera setalah itu aku
pun mempercepat goyanganku itu dan.. "Creett.. croott.. creett.." aku
memuntahkan seluruh maniku itu di mulut Vonny dan Nadya. Mereka berdua
sangat menikmatinya. Kami bertiga pun terkulai lemas di tempat tidur.

Vonny dan Nadya bekata kepadaku, "Thanks yah sayang, aku belum pernah
merasakan seperti ini Yon.. emang kamu sangat hebat untuk melakukan hal
ini," aku pun bekata, "Iya sayang," sambil aku mengecup bibir mereka
berdua. Karena hari sudah larut malam aku pun bergegas untuk pulang dan
pamit kepada mereka. Setelah kejadian itu kami sering melakukannya, baik
di rumah maupun di hotel. Sekian cerita dariku ini. Bila anda berkesan,
anda dapat berkenalan denganku melalui e-mail. Terima kasih atas nilai
yang anda berikan lewat cerita ini.

Uuhhh...

Dalam menjalani kehidupan, khususnya menikmati kehidupan seks kami,
tidak berarti selalu dan setiap saat kami melakukan hal hal tersebut,
paling juga beberapa bulan sekali, memang pernah cukup sering dalam
waktu yang pendek, namun akhirnya terbentuk dengan sendirinya suatu
'pola' waktu yang kami sendiri tidak pernah rencanakan.

"Ma.." kataku pada suatu hari dikala kami sedang santai, istriku sedang
asyik dengan kegemarannya merajut.
"Hmm.. Ada apa Mas?" jawab istriku yang selalu mendehem kalau menjawab
dikala sedang melakukan sesuatu.
"Sudah lama juga ya.. Kita nggak main-main lagi" kataku.
"Main-main apaan..?" tanya istriku entah pura pura atau memang tidak
menangkap maksudku.
"Ya itu.. Main.. Main.. Dengan batang-batang dan biji-biji yang lain.."
jawabku.
"Ah.. Kupikir apaan.." istriku Fifi menjawab tanpa melepaskan
perhatiannya dari rajutan yang sedang dikerjakannya, tangannya sangat
lincah bergerak dengan alat dan benang yang terjuntai.

"Gimana.. Mama mau..?" tanyaku lagi dengan nada berharap.
"Emang apa sih.. Yang ada dipikiran Mas..?" tanya istriku namun kali ini
dengan perhatian yang agak lebih.
"Mm.. Kalau Mama inginnya apa..?" tanyaku memancing.
"Gimana sih.. Ditanya kok balik nanya..?" istriku menjawab lagi.
"Iya.. Kan sudah macam.. macam yang kita coba.. Kalau Mama sekarang
pinginnya gimana.. Gitu.." tanyaku lagi tanpa memperdulikan pertanyaannya.
"Nggak.. Mas dulu yang menjawab.." jawabnya sambil meletakan rajutannya
dan memberikan perhatian penuh pada pembicaraan kami.
"Ok.. Deh.. Gini.. Kalau Mas baca dimana mana.. kan katanya wanita akan
sangat nikmat kalau lawannya punya kemaluan yang besar.. Semakin besar
semakin asyiik.. Nah.. Mama mau coba yang benar benar besar.." aku
berkata menjawab pertanyaannya.
"Lho.. kan.. yang lain.. juga cukup besar.. Malah siapa ya.. waktu itu
yang kita ajak.. Punyanya lebih besar dari Mas.." kata istriku lagi, dan
gerakan matanya serta lidahnya yang mulai menjilat bibir merahnya
menunjukan minatnya (aku terlalu kenal sih).

"Iya.. Tapi maksud Mas Mama ingin coba yang super nggak..?" tanyaku lagi
mendesak.
"Emangnya siapa sih dan ukurannya kayak apa.., kalau Mas mau.. Siapa
takut..?" Fifi menjawab sambil menjebikan bibirnya ke arahku.
"Ok.. Mas atur ya..? Malam.. Minggu besok ya..?" aku senang sekali
karena salah satu fantasiku bisa dipenuhi.

Awalnya adalah saat aku fitness, salah satu kenalan yang kukenal di
fitness center itu, Joko, kebetulan bersamaan waktunya shower denganku,
dan seperti umumnya, cuek saja kami telanjang.. Semua laki-laki kok,
karena locker dan kamar mandinya terpisah untuk pria dan wanita, dan
milik Joko sungguh membuatku terbelalak, dalam keadaan tidak ereksi saja
terlihat sangat.. sangat besar, panjang menjuntai dengan diameter yang
juga mengagumkan dan langsung terbayang.. Masuk nggak ya ke vagina
istriku..?

Aku mengenal Joko sudah 4 tahun, seminggu 3X kami fitness namun biasanya
waktu kami selesai tidak sama, aku yang datang duluan selalu pulang
sebelum Joko selesai berolah raga, dan dengan posturnya tinggi sekitar
180, tidak gemuk, atletis dan berkulit putih, wajahnya tidak terlalu
ganteng namun terlihat bahwa ia sangat berkelas, penampilannya jauh di
bawah umurnya yang sudah 45-an, masih tampak seperti eks mud (eksekutif
muda) dan kini.. kemaluannya ternyata juga tampak sangat perkasa.

Sesungguhnya tanpa sepengetahuan istriku aku sudah melobby Joko dan
setelah mendengar ceritaku, ia mau untuk berpartisipasi, apalagi setelah
ia melihat foto Fifi istriku yang sengaja kubawa, dan sebagai tanda
kepercayaan ia juga telah mengenalkanku pada istrinya yang ternyata
sangat gemuk dan tidak menarik.. (menurutku).

Lagu instrumental dari Blues yang kujadikan ring tones HP ku berbunyi
dan ternyata dari Adri yang menyatakan kesanggupannya untuk datang
meramaikan acara yang kususun, Adri adalah salah satu eksekutif bank
yang kukenal lama, bahkan keluarganya juga akrab dengan kami, dan kini
ia juga kuundang untuk ikutan.

"Joko.." tangan kawan fitnessku itu menggenggam erat tangan halus
istriku dan matanya tak menyembunyikan kekaguman atas kecantikan
istriku, demikian juga Adri yang walau sudah pernah bertemu sebelumnya
namun selalu mengagumi kecantikan Fifi istriku, itulah sebabnya ia saat
ini kuundang untuk 'ikutan' pesta kami.

Kami lalu duduk santai di sofa di service aparteman yang telah
kusiapkan, dan seperti biasa kekakuan lama-lama mulai mencair dan
akhirnya setelah minum, ngobrol dan gurauan mulai mengalir lancar kami
lalu memutar musik lembut, menemaramkan lampu, dan acara berikut adalah
berdansa.

Karena Fifi satu satunya wanita, maka kami ganti berganti berdansa
dengannya, dan aku yang mendapat giliran terakhir. Giliran pertama
adalah Adri dengan Fifi, mereka berdansa mengikuti alunan musik dan
berpelukan, kulihat tangan Adri meremas remas pantat istriku sementara
tubuh mereka berpelukan erat, namun aku tahu kalau istriku belum 'panas'
dia memeluk erat, menepelkan pipinya di pipi Adri, membiarkan tangan
Adri meremas bongkahan pantanya yang dibungkus rok pendek ketat itu.

Lagu habis dan Joko maju menggantikan Adri, ketika mereka berpelukan
kulihat istriku agak tersentak, pasti kaget 'terganjal' sesuatu di
perutnya, karena mungkin akibat pengaruh minuman, lampu, suasana serta
musik dan dansa sebelumnya, mereka berdansa lebih mesra dan ketika musik
mencapai setengahnya, bibir istriku sudah beradu dengan bibir Joko, dan
ketika jarak mereka agak merenggang kulihat tangan istriku sudah didalam
celana Joko yang retsletingnya entah kapan sudah turun dan dari situ
tangan istriku menerobos masuk.

Lagu berganti namun mereka sudah dalam suasana yang 'tak terkendalikan',
rok pendek yang dipakai Fifi sudah terangkat ke atas, dan tangan Joko
berada dibalik celana dalam yang dikenakan, mereka saling berciuman
dengan bernafsu dan melihat itu aku lalu mengambil inisiatif, kudekati
mereka, kusentuh Fifi yang lalu merenggangkan diri dari Joko dan dengan
memberi tanda pada Adri yang masih agak bengong, aku menuntun istriku
dan Joko kugamit dan melangkahlah kami kekamar utama.

Aku lalu memeluk istriku, menciumnya dan mulai melepaskan pakaian yang
dikenakannya, Fifi juga melakukan hal yang sama padaku, dan kuberi tanda
kedua lelaki yang lain untuk juga melepaskan pakaian mereka dan sekejap
saja kami berempat sudah telanjang bulat.

Ketika istriku melihat kemaluan Joko yang sudah ereksi, tangannya
menutup mulutnya yang hampir terpekik, matanya melihat kearahku sekilas
dengan banyak makna dan aku yakin walau tadi sudah sempat meraba saat
berdansa tadi namun masih belum menyadari betapa dahsyat ukuran kemaluan
laki-laki itu, sementara Adri juga melihat dengan kagum dan (mungkin)
sedikit iri, karena kemaluannya masih sedikit dibawahku.

Istriku lau menarik tangan Joko yang tengah didorong rebah di ranjang,
lalu dengan posisi menungging mulai menciumi, menjilat dan memainkan
kemaluan Joko.

Sangat sibuk ia menjilat batangnya dari bawah ke atas, balik lagi,
menjilati biji pelirnya, lidahnya juga terus kebawah dan menjilati
bagian bawah bijinya dan kulihat Joko setiap kali tersentak saat lidah
istriku entah sengaja atau tidak menyentuh anusnya, Hanya kepala
kemaluan yang bisa masuk dalam mulut istriku karena besarnya, butuh dua
tangan bagi Fifi istriku untuk memegang seluruh batang kemaluan itu.

Aku yakin panjangnya tak kurang dari 24 cm, dengan lingkar yang sangat
besar seperti botol, dan kepala yang juga besar, dilingkari urat-urat
yang tampak menonjol.

Posisi Fifi yang menungging membuat Adri tak tahan, dan ia lalu
mendekati dari belakang, dan mulai menjilati belahan pantat istriku
terus kebawah.. Dan istriku sempat menengok sebentar melemparkan senyum
manisnya dan kembali menyelomoti kemaluan Joko.

Tidak lama Adri menjilati vagina istriku, mungkin karena posisinya yang
kurang mendukung, maka ia lalu menegakkan badannya dan mengarahkan
kemaluannya ke vagina istriku yang tampak mengerti dan 'menyambut'
kemaluan Adri memasukinya. Adri tampak asyik bergerak maju mundur
sementara tangannya memeluk dari belakang meremas payudara istriku yang
tampak tak melepaskan konsentrasinya dari 'mainan' dimulutnya itu.

"Ss.. Zz.. Aahh.." Dengan satu erangan keras Adri menyentak dan
membenamkan kemaluannya sedalam mungkin ketika menumpahkan air maninya
dalam vagina istriku, diam sebentar lalu menjatuhkan diri diranjang
dengan kemaluan yang mulai mengerut.

Fifi berhenti sebentar dari kesibukannya menjilati kemaluan Joko,
membalikkan badannya dan menciumi Adri, menjilati lehernya, dada, perut
dan terakhir memasukkan kemaluan yang masih basah namun sudah mengerut
itu dalam mulutnya, dan menjilatinya hingga 'bersih'..

Karena kemaluan Adri masih tetap belum bangun lagi ia lalu menengok ke
arahku dan aku yang mengerti keinginannya menganggukkan kepala, ia lalu
'merayap' lagi ke arah Joko, untuk kemudian berjongkok diatasnya dan
mengarahkan 'raksasa' itu ke vaginanya.

Kini Adri terbangun dan dari dekat menyaksikan, demikian juga diriku
menyaksikan dengan seksama bagaimana istriku mengarahkan kemaluan Joko
yang luar biasa itu ke vaginanya yang masih tampak basah kuyup oleh air
mani Adri. Walau sangat basah namun tampak masih sulit bagi istriku
memasukkan kemaluan itu menerobos vaginanya, dan cukup lama dengan
menekankan pantatnya ke bawah kemaluan itu perlahan masuk diiringi suara
istriku yang mendesis keras seperti orang kepedasan.

"Aahh.. Ss.. Uuuhh.. Uhh.." dan bless kepala kemaluan itu sudah masuk!!

Istriku berhenti sebentar melihat ke arahku dengan raut wajah yang
tampak sangat bernafsu dan mulai menggerakkan pantatnya perlahan dan
perlahan-lahan kemaluan itu masuk semakin dalam.. semakin.. dalam.. Dan
akhirnya diiringi jeritan istriku.. Kemaluan itu terbenam sampai
kepangkalnya.

Aku sangat terangsang menyaksikan 'perjuangan' istriku memasukkan
kemaluan yang sangat besar itu hampir ejakulasi sendiri saat seluruh
batang kemaluan Joko terbenam masuk.

Kini Fifi mulai bergerak teratur dan tidak lama ia mempercepat gerakannya..

"Aakk.. Kelluuaarr.. Aahh", ia mencapai orgasmenya yang pertama hari
ini, dan ambruk di dada Joko yang tampak berhenti bergerak.

Joko lalu membalikkan posisi tanpa melepaskan kemaluannya dan kini
dengan posisi konvensional ia mulai memompa istriku dengan teratur dan
makin lama makin cepat.. makin.. cepat sementara istriku yang semula
tampak menggigit bibirnya mulai 'kembali' dan bergerak mengimbangi.

Terlihat jelas bagaimana vagina istriku 'terbuka' dengan batang kemaluan
Joko didalamnya dicengkeram oleh bibir vagina itu sesekali batang itu
tertarik keluar setengah dengan lendir yang tampak berkilau dan hampir
bersamaan mereka berteriak.."Akk.. Aahhsstt.." dan dengan bibir
berpagutan keduanya mengejang sementara Joko membenamkan kemaluannya
sedalam mungkin sambil menyemprotkan air maninya dalam rahim Fifi istriku.

Cukup lama mereka terdiam sebelum Joko bergolek kesamping dan dengan
suara 'plop', kemaluan itu terlepas dari vagina istriku yang diikuti
lelehan air mani kental. Aku yang tak tahan lagi segera saja
menggantikan posisi Joko dan Fifi yang mengerti merangkulku lalu
kemaluanku pun tertanam dalam vagina istriku yang barusan telah diisi
oleh air mani dua laki-laki.

Siapa bilang kalau vagina baru dipakai itu tidak enak?, dan siapa bilang
kalau kemaluan yang lebih besar pernah masuk vagina itu jadi longgar?.
Aku merasakan suatu kenikmatan yang tiada taranya ketika kemaluanku
memasuki vagina istriku, rasa hangat dari air mani yang sebelumnya telah
mengisinya, dan vagina yang menebal karena gesekan dengan kemaluan
sebelumnya memberi kenikmatan yang bahkan lebih besar lagi.

Dengan saling memeluk aku menggerakkan pantatku berirama dan sebentar
saja aku tahu bahwa aku tak bisa menahan dan dengan melenguh aku
melepaskan air mani dalam vagina istriku, air mani laki-laki ketiga yang
mengisi vagina istriku yang cantik.

"Mas.. Aduh.. Perih banget.." kata istriku ketika aku mengantarnya
kekamar mandi mencuci vaginanya.
"Gimana rasanya..?" tanyaku ingin tahu.
"Uh.. Kegedean.." jawab istriku sambil menyabuni tubuhnya.
"Enak nggak.."tanyaku lagi.
"Kalau kegedean gitu.. Gimana ya.. Waktu masuk perihnya luar biasa terus
bukan mentok lagi ke mulut rahim tapi nabrak.. Jadi kayaknya sih.. Aku
lebih suka yang besar tapi jangan terlalu over gitu, .. Cuma nggak apa
apa sih.. Mas jangan kuatir aku akan membuat mereka puas kok.. Ini kan..
Part of the experience" istriku menjawab dan mengeringkan tubuhnya.

Kami lalu berkumpul di ranjang setelah semua membersihkan diri dan minum
membasahi tenggorokan yang kering. Permainan berikut mulai lagi, kali
ini istriku yang telentang sementara Joko menjilati dan menghisap
payudara kirinya, Adri yang kanan dan aku menjilati kemaluannya.

Posisi ini tidak lama karena kami bergerak bergantian dan kini Adri yang
menjilati kemaluan istriku, lalu giliran Joko dan kemudian dengan tanda
dari istriku Adri berjongkok diatasnya, mengarahkan kemaluannya ke mulut
istriku yang menerimanya dengan lahap, dan dengan tangan bertumpu pada
tembok Adri menggerakan kemaluannya maju mundur dengan cepat dalam mulut
istriku yang tangannya tidak tinggal diam memainkan biji pelir yang
menggantung itu.

Tidak sampai 10 menit Adri mempercepat gerakannya dan "Aahh.. Ss" ia
menyemburkan air maninya di dalam mulut istriku yang tanpa berpikir
langsung menelan dan tidak berhenti menghisapnya dan kembali dengan
lenguhan puas ia tergolek lemas.

Kini giliran Joko yang diminta telentang dan istriku mulai lagi dengan
permainan mulutnya di kemaluan besar yang juga sudah bangun tegak lagi
itu. Perlu waktu lebih lama bagi Joko untuk mengeluarkan air maninya dan
karena besarnya ukuran kemaluan itu maka hanya lubang pada kepala
kemaluan itu yang di cucup oleh istriku ketika Joko mengeluarkan air
maninya sementara tangannya membantu dengan mengocoknya dan saking
banyaknya walau sudah diusahakan untuk ditelan semua namun tetap ada
yang menetes di sela-sela bibir istriku.

Permainan masih berlanjut, kembali Joko memasuki vagina istriku, diikuti
Adri dan berakhir ketika istriku yang sudah kelelahan menelan air maniku.

Selama 4 hari aku harus 'puasa' menunggu rasa perih akibat besarnya
kemaluan Joko lenyap dari vagina istriku dan walau kedua kawanku itu tak
habisnya memuji istriku namun aku tidak memberi kesempatan lagi
khususnya pada Joko, karena istriku tidak mau lagi.. Besar.. boleh..
Tapi.. Jangan terlalu besar itu pesannya..

Tugas Kenikmatan

Halo, perkenalkan namaku Dana usia 27 tahun berasal dari Sumatra Utara.
Aku sudah berkeluarga dengan 1 anak yang masih berusia 3 tahun. Aku dan
R suamiku hidup sangat romantis dan sebenarnya keharmonisan kami sudah
terbentuk sejak kami masih berteman (R adalah rekan kerja satu kantor
sampai sekarang) yang seiring berjalannya waktu kamipun berpacaran.

Ternyata keasikan pertemanan kami setelah memasuki masa pacaran tidak
mengalami perubahan malah semakin kompak karena untuk pulang kerumah aku
tidak perlu kuatir jam berapapun karena R dengan setia siap mengantarku
pulang atau kalau aku yang lembur maka R akan pulang duluan lalu kembali
ke kantor untuk menjemput. Maklumlah sekalipun posisiku dikantor masih
tergolong pegawai biasa tetapi kesibukan seolah tidak pernah berhenti
dan aku sangat menikmati pekerjaan itu.

Oh ya aku saat ini aku bekerja di bagian keuangan salah satu NGO asing
yang menangani perpajakan sehingga banyak sekali tugasku menuntut aku
harus banyak menghabiskan waktu untuk berhubungan dengan orang-orang
pajak yang sudah menjadi rahasia umum sangat banyak tuntutan. Akupun
jadi terbiasa menghadapi mereka dan tak jarang untuk dapat "melunakkan"
hati mereka aku harus bersikap seluwes bahkan cenderung berpura-pura
genit termasuk tampil agak seronok dengan tujuan supaya tugasku dapat
selesai dengan mudah. Untungnya suamiku cukup bijaksana dan dapat
memahami keberadaanku dengan memberikan kepercayaan 100% kepadaku.
Ternyata keleluasaan ini justru membawa aku kedalam situasi yang sulit
hingga akhirnya aku memasuki satu dunia yang belum pernah kukenal tapi
gilanya aku jadi sulit untuk keluar dari dunia tersebut yaitu threesome
sex.

Awalnya ketika itu kantorku menjelang tutup buku dan seperti biasanya
kesibukan kami di keuangan menjadi luar biasa tingginya sampai-sampai
ada beberapa rekanku yang harus pulang kantor menjelang pagi. Aku
sendiri tetap pada tugas utama yaitu merapihkan laporan-laporan pajak
dengan dibantu oleh petugas-petugas pajak. Syukurlah kali ini yang
ditugasi untuk konsolidasi ada 2 orang yang sudah tidak asing bagiku
yaitu Heru (26) dan Dimas (25) sehingga aku tidak perlu buang-buang
waktu untuk beradoptasi dan menjelaskan kondisi kantorku.

Kami janjian ketemu di Hertz Chicken untuk makan siang sekaligus
berdiskusi awal menyepakati hal-hal apa yang harus dilakukan dan
pembagian tugasnya. Karena sudah akrab kamipun menyelingi diskusi dengan
senda gurau dan setelah itu kami lanjutkan pekerjaan inti di kantor
mereka yang letaknya cukup jauh yaitu di Tanggerang. 3 hari pertama
semua berlangsung normal, ketika memasuki hari ke 4 volume pekerjaan
semakin serius sehingga tidak terasa sudah jam 8 malam. Sedangkan target
selesai kerjaan kami hari ke 6 sudah harus dilaporkan. Akupun jadi
gelisah sendiri dan rupanya Heru menangkap gelagat itu dan mencoba
membantuku mencari solusinya.

"Bukan apa-apa Her, rumahku kan jauh sekali di Bogor sedangkan jam
segini aku masih di Tanggerang"
"Ya udah begini saja, bagaimana kalau Mbak Muti bermalam saja di cottage
dekat kantor lalu besok pagi minta tolong suami Mbak Dana membawakan
pakaian ke kantor. Tapi sekarang harus kasih tahu dulu sama suami supaya
dia tidak gelisah nungguin," usul Heru
"Boleh juga, usul diterima" sambutku gembira dan mengangkat tangan untuk
TOSH dengan Heru.

Segera kutelpon suamiku R yang sedang berada di luar kota untuk minta
ijin dan R menyetujui bahkan menyuruhku supaya mentuntaskan. Setelah
makan malam nasi goreng di kantor akupun minta tolong Heru mengantarku
ke cottage yang dimaksud. Setiba disana ternyata tempatnya cukup
menyenangkan karena tersedia ruang tamu dan 2 kamar ditambah lagi hari
itu ada rate khusus berkenaan dengan ulang tahun cottage tersebut.
Melihat itu spontan aku langsung setuju bahkan menyesali.

"Tahu begitu kita kerja disini saja lebih enak"
Rupanya reaksiku ini disambut oleh Heru, "kalau begitu bagaimana kalau
kita melanjutkan tugas kita disini supaya aku dan Dimas enggak perlu
repot-repot karena disini kan bisa sekalian mandi lalu tidur, mumpung
kamarnya dua.. gimana Mbak?"
"Boleh saja," jawabku pendek tapi dalam hati menyesali spontanitasku
tadi karena berarti malam ini aku akan berada bersama 2 laki-laki dalam
satu atap rumah.

Namun keraguanku pupus karena aku berusaha berpikir positif, toh kita
nggak akan macam-macam karena kamar kami terpisah, kalaupun terjadi
apa-apa atas diriku aku bisa berteriak. Ah, jahatnya hati ini.. kalau
dilihat dari sikap dan penampilan mereka yang intelek mana mungkinlah
mereka mau berbuat macam-macam.

Tak lama kemudian Dimaspun datang dengan membawa beberapa tumpuk order
dan meletakkan di meja makan yang rencananya akan kami jadikan meja
kerja. Untuk menghilangkan rasa lelah aku memutuskan untuk berendam di
kamarku yang juga dilengkapi dengan kamar mandi. Tapi baru kusadar aku
tidak membawa pakaian, untunglah aku membawa kaos mirip singlet dan
kebetulan dibalik celana panjang yang kupakai aku juga mengenakan celana
sport stretch hitam sebatas diatas lutut. Masalah lain adalah aku hanya
membawa CD yang menempel.. Duh bagaimana ya..

Akhirnya aku dapat ide untuk mencuci CD itu dan menjemur di kamar mandi
dengan harapan besok pagi sudah kering. Sebagai pengganti CD aku
melapisi kemaluanku dengan panty liner yang kutempelkan langsung di
celana. Beress.. Kan?? Lalu mandilah aku dengan air panas yang sudah
kuatur sesuai selera. Usai mandi akupun berbusana seperti yang sudah aku
pikirkan dan ketika keluar kamar kulihat Heru dan Dimas sudah segar
karena mereka juga sudah mandi dan seolah sudah janjian mereka sama-sama
mengenakan celana pendek, tapi bagian atasnya hanya Heru yang mengenakan
kaos singlet sedangkan Dimas bertelanjang dada saja membiarkan dadanya
yang bidang berotot dan berbulu itu terpampang membuat darahku sedikit
berdesir.

"Maaf Mbak Dana aku terpaksa tidak pakai apa-apa karena tadi waktu mau
mandi bajuku jatuh dari kapstok sehingga basah"

Dimas berusaha menjelaskan dan menutupi rasa saltingnya karena mataku
menatap tajam.

"O ya, tapi sudah dijemur kan?" tanyaku basa basi.
"Sudah sih," jawab Dimas sambil pura-pura sibuk dengan kerjaannya lagi.
"Ah, bilang aja mau pamer bulu sama Mbak Dana.. ck, ck, ck.. Di
kampungnya aja segitu banyak apalagi di kotanya.. ha, ha, ha" ganggu
Heru sambil melirik ke aku dan kulihat Dimas semakin malu.

Rupanya introduksinya Heru tidak berhenti disitu karena akhirnya kami
kembali bersenda gurau yang selanjutnya topikpun beralih serius menjadi
diskusi tukar pikiran seputar hal-hal yang sangat pribadi dan kamipun
tenggelam asik dalam pembicaraan tentang teknik-teknik ML. Dari situ
baru kuketahui dari kisah-kisah mereka ternyata Heru sangat piawai dalam
teknik sex. Heru terus bercerita tentang pengalamannya dengan beberapa
teman gadisnya yang menurut pengakuannya cewek-cewek itu sangat
tergila-tergila dengan permainannya.

Lain halnya dengan Dimas yang lebih banyak mendengarkan tapi tanpa sadar
Dimas sudah menutupi bagian auratnya dengan bantal, mungkin malu kalau
ketahuan "adik"nya sudah meronta-ronta. Semula aku bertahan untuk tidak
menceritakan pengalamanku, tapi karena Heru pandai memanfaatkan suasana
akhirnya kuceritakan juga apa saja yang aku dan suamiku pernah lakukan
tapi masih dalam batas yang sopan karena itu hal yang tabu untuk
disampaikan kepada orang lain apalagi lawan jenis dan bukan suami sendiri.

Lama kelamaan level cerita kamipun meningkat, aku sudah semakin berani
menyampaikan hal yang sekecil-kecilnya tentang apa saja yang masing aku
dan suamiku sukai. Begitu juga dengan Dimas yang berhasil dibuat mengaku
kalau ternyata selama ini mengalami minder akibat bawaan lahir karena
memiliki penis yang sangat besar. Dengan tetap berusaha keras
mengendalikan hormon wanitaku aku berusaha untuk menghibur Dimas.

"Ah, kenapa harus minder.. Justru seharusnya bangga dong. Seperti aku,
maaf kata nih, aku suka minder karena memiliki rambut yang berlebihan.
kalau laki-laki seperti kamu sih nggak apa-apa, tapi aku suka kuatir
suamiku tidak menyukainya. Buktinya setiap aku memintanya untuk mengoral
selalu ditolak halus, tapi jangan salah.. Dia selalu puas dengan coitus
kami"

Hari semakin malam dan topik diskusi kami semakin panas dan kamipun
sudah berpindah ke sofa. Ketika kami membahas threesome sex dan entah
sadar atau tidak sambil bercerita posisi duduk sudah tak karuan.. Aku
bersandar di pegangan sofa dengan kaki diatas pangkuan Heru dan kaki
sebelah berjuntai ke karpet dimana Dimas duduk dilantai sambil menikmati
Heru yang memijat betis indahku dengan bulu-bulu halus yang tumbuh rapih
disitu dan Dimas memijit telapak kakiku yang putih bersih dengan kuku
dilapisi kutex transparan.

Begitu nikmat sensasi pijatan yang mereka berdua lakukan akhirnya aku
merasa melayang apalagi pijitan Heru sudah naik ke arah pahaku dan aku
ingat aku hanya mengangguk dengan mata terpejam ketika Heru dan Dimas
melepaskan celana sportku dengan alasan untuk memudahkan pemijitan dan
lupa kalau itulah pertahananku terakhir. Ketika kubuka mata untuk
mencegah upaya mereka tapi ternyata terlambat karena celana itu baru
saja terlepas dari ujung kakiku.

"Duh.. Kalian ini.. Aku jadi malu"

Tapi mereka tidak menggubris sebab mereka sudah asik masing-masing
dengan kakiku.. Dan aku semakin bergumul dengan diri ini antara menolak
dan sebaliknya.. Yang kesimpulannya aku dengan perlahan dan sambil
menggoyang-goyangkan pinggul akibat sensasi yang begitu hebat membuka
kakiku terbuka lebar-lebar dan melupakan rasa malu karena telah
memamerkan bagian dari wanita yang mestinya aku tutupi dan hanya dapat
dibuka didepan suamiku. Tapi peraturan itu seolah tidak berlaku karena
dibawah selangkanganku sana dua lelaki muda sedang menggeluti pahaku
dan.. Oow mereka tiba-tiba berubah seperti hewan lapar sedang rebutan
makanan dan begitulah mereka sedang saling dorong untuk bisa melahap
kemaluanku..


Dan akhirnya Dimas mengalah membiarkan Heru melahap kemaluanku dengan
rakusnya, selanjutnya giliran Dimas yang berbeda dari Heru.. Lebih
lembut tapi oougghh seluruh permukaan kemaluanku terasa dikunyah,
penasaran mau tahu apa yang sedang Dimas lakukan, kubuka mata dan
kulihat mulutnya yang ditumbuhi janggut dan kumis tebal itu telah
menutupi kemaluanku membuat aku kegelian hebat serta tiba-tiba kurasakan
ada sesuatu yang mendesak dari bagian bawahku yang ternyata cairan
kewanitaanku mengalir deras memenuhi rongga kemaluanku..

Setelah puas menggeluti kemaluanku Heru mengambil handuk dan menyeka
kemaluanku.. Dan mengambil sesuatu yang ternyata krim cukur jenggot dan
shaver.. Aku tahu apa yang akan Heru lakukan tapi akibat kenikmatan oral
sex itu aku seperti tidak berdaya dan tetap telentang dengan posisi
mengangkang..

"Heru apa yang mau kamu lakukan??"

Tapi pertanyaanku tidak digubris malah Heru memberi kode kepada Dimas
yang kemudian Dimas menghampiriku dan didepan mataku dia menurunkan
celana pendeknya.. Dan wow.. Batang kemaluan Dimas ternyata sudah memuai
sampai sebesar tangan bayi.. Dengan tetap lembut Dimas menyodorkan Super
Dicknya ke mulutku sehingga mulutku sekarang penuh sesak dengan penis
milik Dimas sementara dibawah sana Heru rupanya asik mencukuri
kemaluanku.. Semua proses itu berlangsung kira-kira 15 menit dan ketika
"pekerjaan" Heru selesai Dimaspun mencabut penisnya dari mulutku.

Ketika kutengok kemaluanku sudah licin memerah.. Setelah membersihkan
sofa dari bulu-buluku Heru memulai tugas lainnya, penisnya yang tidak
kalah besarnya dari milik Dimas segera melompat dari celana pendeknya..
Sehingga yang terlihat sekarang 3 insan berlawanan jenis sudah polos
tidak mengenakan apa-apa terlebih aku sudah seperti bayi karena
kemaluanku sudah tidak ditumbuhi bulu lagi dan sedang digosok-gosok oleh
batang kemaluan Heru sampai cairanku keluar seolah menyatakan siap untuk
menyambut penis Heru yang besar dan penuh urat..

"Sshh.."

Hanya desisan itu yang keluar dari mulutku ketika kepala cendawan itu
menerobos perlahan kewanitaanku yang selama ini hanya digunakan oleh
suamiku R. Secara naluri mulutku terbuka lebar ketika kurasakan batang
kemaluan Heru sudah tertanam seluruhnya di dalam liang senggamaku..
Setelah beberapa saat didiamkan yang ada dibenakku adalah betapa
sesaknya kemaluanku dan gatalnya minta ampun sehingga tanpa sadar
pinggulku bergoyang yang disambut dengan genjotan Heru..

Selang beberapa lama Heru tiba-tiba membalikkan tubuh kami dengan penis
masih tetap tertanam sehingga sekarang aku berada diatas Heru memberiku
kesempatan untuk mencari sensasi sendiri.. Hal ini berlangsung cukup
lama entah sudah berapa kali aku orgasme.. Tak lama kurasakan bokongku
ada memukul-mukul pelan, ketika kutengok ternyata Dimas sedang dalam
posisi tegak dibelakangku dan mengoleskan baby oil ke anusku..
Selanjutnya yang terjadi adalah kenyataan 2 penis besar mereka sudah
tertanam dalam tubuhku.. Luar biasa nikmatnya sampai akhirnya merekapun
ejakulasi dan menumpahkan di wajahku..

Setelah itu kami bertiga tertidur pulas dan pagi-pagi kami bangun
melanjutkan pekerjaan yang tersisa. Bedanya dengan kemarin-kemarin
adalah sekarang kami bekerja tanpa sehelai benangpun dan bila sudah
mulai bosan kami selingi dengan persetubuhan.. Kadang aku melayani
sekaligus berdua, kadang satu-satu dan sementara salah satu dari mereka
tetap bekerja.

Lucu memang.. Tapi itulah pengalaman dahsyat yang aku alami dan membuat
aku jadi sekarang jadi ketagihan.. Malah aku pernah melayani Heru dan
Dimas ditambah 3 orang temannya yang lain.. Luar biasa.. Benar-benar aku
sudah punya dunia sendiri diluar ijin suamiku R.

Threesome Party

Namaku Dody. Aku adalah seorang karyawan salah satu perusahaan IT di
Bandung. Saat ini usiaku 28 tahun dan masih single. Seperti halnya orang
lain, di usiaku ini kehidupan seksku semakin menggebu. Tetapi ada satu
perbedaannya, yaitu aku ini termasuk biseks. Aku anggap ini adalah suatu
kelebihan, karena disamping aku suka cewek juga aku suka laki-laki. Dan
fantasi seksku yang paling aku sukai adalah bermain seks bersama seorang
laki-laki dan seorang perempuan (threesomes). Aku impikan kesempatan ini
tiap hari, sampai pada suatu ketika, tepatnya awal tahun 2001, sekitar
bulan Februari, kesempatan ini akhirnya terlaksana juga.

Jauh hari sebelum kejadian itu aku dekat dengan teman sekantor, namanya
Andri (bukan nama sebenarnya). Sebelumnya aku tidak begitu dekat dengan
dia karena divisi kami yang berbeda. Tapi karena kami dilibatkan dalam
satu proyek, maka akhirnya kami menjadi dekat. Terus terang aku kagum
sekali dengannya. Wajahnya sih biasa saja, tetapi badannya sangat
atletis, tingginya sekitar 178 cm lebih pendek 4 cm dari tinggiku
(tinggiku sekitar 182 cm). Usianya sekitar 32 tahun dan dia sudah
berkeluarga dan mempunyai 1 anak. Kadang-kadang di sela kesibukan kami,
dia selalu mencuri pandang ke arahku, dan kadang-kadang selalu
menatapku. Aku sendiri jadi bingung apa gerangan yang ada di hatinya,
dan aku balas lagi tatapannya sehingga akhirnya kami saling berpandangan
selama beberapa detik dan kuakhiri dengan memberikan senyuman.

Semenjak saat itu kami jadi dekat sekali, dan kadang-kadang kami pergi
ke toilet di kantor bersamaan. Ketika kami buang air kecil, kami selalu
saling melihat penis masing-masing (kontes), dan kadang kami saling
tertawa melihat kelakuan kami ini seperti anak SMP saja. Akhirnya aku
tahu bahwa dia sudah ditinggalkan istrinya sekitar 2 bulanan.

Aku tidak tahu alasannya kenapa, karena aku tidak mau terlibat dengan
urusan rumah tangganya. Sehingga jika aku kerja lembur dan pulangnya
malam aku selalu ditawari menginap di rumahnya. Aku setujui saja karena
dari pada aku pulang jauh-jauh ke rumahku yang berada di luar kota
Bandung, lebih baik aku menginap di rumahnya sambil dapat mengenal lebih
dekat lagi dengan Mas Andri (itulah panggilan aku ke dia).

Karena di rumahnya tidak ada siapa-siapa, kami selalu berpelukan sambil
menonton televisi layaknya seorang adik dengan kakak. Walau bagaimanapun
aku masih menaruh hormat bahwa dia adalah teman kerjaku, walaupun
kadang-kadang penisku ini bangun dari tidurnya. Dan sampai saat itu aku
tidak tahu bagaimana dia, apa dia mempunyai fantasi seperti aku?

Pada suatu waktu kami ditugaskan ke luar kota untuk melakukan
presentasi. Dan hanya aku dan Mas Andri saja yang ditugaskan. Kebetulan
di kota S itu aku mempunyai teman cewek namanya Rita. Kami sudah
berkenalan selama setengah tahun melalui chating, dan kami selalu saling
komunikasi dan saling tukar foto. Dari fotonya aku melihat dia begitu
cantik dan seksi. Dan setelah pekerjaan kantorku dengan Mas Andri
selesai, aku telepon dia untuk datang ke hotelku (aku dan Mas Andri
menyewa 1 kamar). Akhirnya Rita mau datang tapi agak malaman.

Ketika malam tiba, akhirnya bel pintu hotel berbunyi. Lau aku buka,
ternyata wow, seorang gadis cantik sedang berdiri. Ternyata Rita ini
tinggi, sekitar 168 cm, kulitnya putih mulus, kakinya jenjang, rambutnya
panjang terurai dan amboi.. dadanya itu yang membuat mata tidak mau
mengalihkan ke arah lain. Di usianya yang ke 26 ini dia kelihatan begitu
seksi dengan rok pendeknya seperti seorang super model yang sedang
berpose. Aku terkesima sampai beberapa detik.

"Apa betul ini kamarnya Pak Dody..?" tanyanya."Betul.. kamu pasti Rita
yah..?" jawabku."Dan kamu pasti Dody yah..?" jawabnya.Kami akhirnya
saling berjabat tangan, dan aku persilakan dia untuk masuk. Tidak lupa
kukenalkan pada Mas Andri."Maaf yah kamarnya berantakan..," kataku."Ah
ndak apa-apa kok aku ngerti kok kalian kan laki-laki," katanya sambil
senyum.Aduh mak.., senyumnya begitu seksi sekali, kelihatan bahwa dia
itu orang yang ramah.Singkat cerita kami bertiga ngobrol sampai malam,
dan akhirnya kami pesan makan malam lewat room servicenya hotel. Dan
tidak kerasa waktu sudah menunjukkan jam 10 malam. Dari obrolan
sebelumnya aku jadi tahu bahwa Rita tinggal kost di kota S ini. Dia
kerja sebagai sekretaris di perusahaan onderdil mobil terkemuka.
Orangtuanya tinggal di luar kota. Jadi dia bebas-bebas saja kalau
pulangnya malam. Obrolan kami sudah tidak karuan lagi, dan mengarah pada
hal seks.

"Mas, pantas yah kalau aku jadi pacarnya Rita..?" tanyaku ke Mas Andri
sambil bercanda.
Aku mendekati Rita dan duduk di sampingnya sambil memeluknya serasa dia
pacarku.
"Wah pantas sekali.. tapi lebih pantasnya lagi kalau sama Mas saja.."
kata Mas Andri sambil tersenyum.
"Yah sudah.. kalau kalian mau.. dua-duanya aja. Aku senang kok pada
kalian berdua," katanya sambil senyum.
"Yang bener nih..?" tanyaku sambil jantungku ini mulai berdebar-debar.
"Rita serius kok.. malahan dua rius." katanya.
Mendengar perkataan Rita seperti itu, otomatis jiwa kelelakian kami
terpanggil serasa ada lampu hijau yang mempersilakan untuk jalan terus.

Sekilas kulihat Mas Andri juga mengalami hal yang sama denganku. Nafsu
seks aku pada saat itu begitu menggebu-gebu. Tanpa malu-malu aku eratkan
pelukanku ke tubuh bagian atas Rita sampai buah dadanya terasa sekali di
dadaku. Aku ciumi lehernya, dan perlahan-lahan kuciumi sampai ke bawah
dan sampai ke buah dadanya. Melihat adegan itu, Mas Andri juga tidak mau
kalah, dia menciumi sedikit demi sedikit kaki mulusnya Rita, mulai dari
betis sampai ke paha. Karena posisi kami yang tidak mengenakan ini, kami
boyong tubuh Rita ke atas kasur dan kedengaran nafas Rita yang mulai
tidak teratur.

Aku mulai mencium bibir Rita yang mungil itu. Kukulum bibirnya dan
sesekali kuhisap dengan desahan-desahan yang membuat dia semakin
terangsang. Tanpa kusadari, ternyata Mas Andri sudah berada di bibir
kami. Akhirnya kami bertiga saling berciuman, dan terasa sekali
nikmatnya hisapan-hisapan bibir kami yang membuat kami bertiga semakin
terangsang. Aku mulai membuka t-shirt 'polo'-ku, dan begitu juga Mas
Andri dengan kemejanya. Mas Andri mulai membuka bajunya Rita, dan
tampaklah BH-nya Rita yang bewarna coklat muda dengan renda-renda di
pinggirnya. Sehingga tampaklah dua buah gunung yang menjulang ke atas.
Dan dengan tanpa basa-basi lagi Mas Andri langsung melepaskan BH-nya
Rita, dan tampak buah dada Rita yang putih mulus, dan tampak putingnya
yang sudah keras dan memerah.

Melihat pemandangan yang begitu menggoda, Mas Andri langsung menghisap
buah dada yang sebelah kiri. Tanpa menunggu perintah dari Mas Andri, aku
langsung ikutan menghisap buah dada Rita yang sebelah kanan. Kuhisap dan
hisap terus, kadang-kadang kujilat putingnya yang keras itu, dan
terdengar rintihan dan desahan-desahan nikmat Rita. Karena penis aku
yang dari tadi sudah kepingen ikutan menikmati pemandangan yang indah
itu sehingga dia tidak nyaman di tempatnya, maka kulepaskan celanaku dan
CD-ku. Tampaklah penisku yang menyembul keluar. Ukuran penisku sekitar
18 cm, dengan batang yang agak besar dengan ukuran helm yang lebih besar
dari batangku.

Mas Andri juga ikut-ikutan melepaskan celana dan CD-nya juga. Tampaklah
penisnya yang tidak terlalu besar, sekitar 14 cm tetapi mempunyai batang
yang besar. Aku baru sekali ini melihat penisnya Mas Andri yang sudah
berdiri tegak. Sebelumnya aku belum pernah melihat penis Mas Andri yang
tegak sekali seperti sekarang ini, mungkin karena terangsang sekali
menikmati pemandangan yang indah ini, sehingga aku pun ikut semakin
terangsang. Kulepaskan juga rok dan CD hitamnya Rita, sehingga kami
bertiga berbugil ria tanpa sehelai benang pun di tubuh kami.

Aku mulai menciumi dan menghisap puting buah dadanya Rita lagi. Dan Mas
Andri mulai menghisap lubang vaginanya Rita. Nafas Rita mulai tidak
teratur dan tampak Rita mengelinjang-gelinjang. Aku semakin terangsang
melihatnya. Apalagi melihat Mas Andri yang semakin semangat menghisap,
dan lidahnya yang panjang mejilati lubang kenikmatannya Rita. Beberapa
menit kemudian Rita mulai orgasme, dan tampak badan Rita menegang
diiringi dengan suara jeritan, "Auuch..," tanda keenakan.

Mendengar jeritan suara Rita itu, penisku tambah tegak dan rasanya ingin
kumasukkan cepat-cepat ke lubang vagina Rita, tapi aku lihat Mas Andri
mulai memasukkan penisnya ke dalam lubang vaginanya Rita, dan tangan Mas
Andri memegangi penisnya agar dapat masuk ke dalam vagina Rita. Setelah
kelihatan masuk, Mas Andri mulai menggenjot dan memasuk-keluarkan
penisnya. Tiba-tba tangan Rita sudah memegang penisku dan menuntunku ke
dalam mulutnya. Akhirnya penisku sudah ada di depan mulutnya Rita. Rita
mulai memainkan lidahnya menjilati penisku dan sesekali dimasukkannya
penisku sambil dihisapnya.

Tiap hisapannya rasanya bagaikan terbang di awan, apalagi melihat
genjotan Mas Andri yang semakin cepat di vaginanya Rita. Tampak dia
begitu seksi dan gagah, dan aku sengaja mendekatkan wajahku pada wajah
Mas Andri. Aku ingin sekali meciumi bibirnya yang seksi, tapi aku takut
Mas Andri tidkak suka. Tapi tanpa diduga, Mas Andri mulai mencium
bibirku, dan kubalas. Kami saling berciuman dengan penuh nafsu,
sementara Mas Andri tetap menggejot Rita dan penisku masih tetap dihisap
oleh Rita.

Akhirnya kami ganti posisi ke posisi doggy sytle, dimana Rita menungging
dan gantian aku yang memasukan penisku ke dalam vaginanya Rita. Untuk
pertamanya aku sulit sekali memasukkan penisku ke dalam vaginanya,
mungkin karena ukuran penisku yang agak besar dibanding punyanya Mas
Andri. Tapi sedikit demi sedikit aku masukkan, dan akhirnya, "Bless.."
penisku dapat masuk. Uhh.., enak sekali rasanya, ternyata lubang vagina
Rita masih sempit, dan aku merasakan penisku bagai diremas-remas. Aku
masuk dan keluarkan penisku, dan kulakukan semakin cepat. Sekarang
giliran penis Mas Andri yang dihisap oleh Rita. Rasanya enak sekali
menggenjot Rita dan melihat Mas Andri yang keenakan dihisap oleh Rita.
Mungkin inilah yang dinamakan surga dunia, dan aku bagaikan terbang di
awan.

"Uh.. ah.. uh.. ah..," suara rintihan Rita.
"Terus.. Mas.. oh.. enak Mas.. terus..!" teriaknya.
Kugenjot terus dan semakin cepat kugenjot, dan akhirnya Rita berteriak,
"Mass.., aku mau keluarr.."
Tubuh Rita menegang dan terasa vagina Rita berdenyut-denyut, terasa ada
yang membasahi penisku. Akhirnya Rita orgasme yang kedua. Kukeluarkan
penisku yang masih tegak berdiri, dan tampak ada sebagian cairannya
Rita. Mas Andri langsung menjilati penisku dan menjilati semua cairan
yang ada sampai habis. Dan tanpa kuduga, Mas Andri terus saja menjilati
penisku dan mulai memasukkannya ke dalam mulutnya. Oh.., enak sekali
hisapannya, berbeda dengan hisapan Rita tadi. Kali ini lebih kasar dan
lebih dalam sedotannya, bagaikan vacuum cleaner yang sedang menyedot debu.

Setelah bangkit dari istirahatnya, Rita kemudian menghampiri kami dan
mulai memegangi penisnya Mas Andri dan memaksa kami untuk berdiri di
lantai. Akhirnya aku dan Mas Andri berdiri berhadapan, dan Rita
memegangi penis kami sambil jongkok. Penis kami bergantian dihisapnya.
Dan kadang-kadang keduanya dimasukkan ke dalam mulutnya sambil tangannya
mengocok penis kami berdua. Sambil keenakan kuhisap putingnya Mas Andri
dan kujilati. Tampak lenguhan Mas Andri yang merasakan keenakan.

"Uh.. terus Dod, teruus enaak..!" katanya setiap kujilat putingnya.
Mendengar desahan Mas Andri dan melihat Rita yang sedang asyik menikmati
penis kami, aku semakin terangsang, dan akhirnya ada sesuatu yang ingin
keluar dari penis kami.
"Mas, aku ingin keluuaar.." kataku.
"Aku juga.." kata Mas Andri.
Akhirnya kami memegang penis kami masing-masing dan mengocoknya. Wajah
Rita sudah berada di depan penis kami.

Kupercepat kocokkanku, dan, "Ahh.. crot.. crot.. crot.." air maniku
keluar persis di bibir merahnya Rita.
Begitu juga dengan Mas Andri. Tampak badannya menegang dan matanya
terpejam menikmati sesuatu yang enak, yang mungkin selama ini belum
dialaminya.
Dan seiring dengan lenguhan panjangnya Mas Andri, "Ahh.., crot.. crot.."
air maninya keluar mengenai wajah Rita yang kelihatan menikmatinya juga.
Rita mengusapkan semua cairan mani tersebut ke seluruh wajah dan
badannya. Kuciumi bibir Rita yang masih terasa air mani yang aku dan Mas
Andri keluarkan tadi. Akhirnya kami bertiga saling berciuman, dan kami
pun naik ke atas kasur. Kami saling berpelukan, dan tanpa terasa
akhirnya kami tertidur.

Besoknya, sekitar jam 10 pagi kami bangun dan mandi bertiga. Kami
mengulangi permainan seks seperti semalam lagi, tetapi sekarang lebih
cepat kami lakukan, karena Rita harus segera pulang dan bersiap-siap
untuk kerja. Dengan perasaan puas seperti semalam, akhirnya kami akhiri
permainan tersebut, dan kami pun segera untuk bersiap-siap pulang ke
Bandung. Saat perpisahan, Rita menciumi kami berdua, dan dia minta agar
kami selalu mengontak dia jika kami ingin bermain three somes lagi.

Itulah pengalaman pertamaku bermain three somes. Mungkin nanti aku akan
ceritakan pengalamanku bermain seks dengan Mas Andri, mantan istrinya
dan pacarku. Jika ada dari rekan-rekan 17Tahun.com yang ingin ikutan
bermain bersama dalam permainan seks dengan aku, baik bagi yang biseks
atau bagi suatu pasangan yang ingin suasana baru, please email, pasti
aku akan balas emailnya.

Wanita-wanita Frustrasi

Cerita ini terjadi sekitar 2 tahun yang lalu. Saat itu aku masih kuliah

pada semester ke empat. Aku adalah seorang pria lajang 20 th dengan
tinggi 175 cm berat 70 kg yang sedang kuliah di salah satu PTN di
daerahku. Aku tinggal disebuah rumah bedeng 5 pintu dan aku berada pada
pintu yang pertama. Kalau dibandingkan dengan teman-temanku, aku
termasuk anak yang pemalu alias kuper (kurang pergaulan). Hal ini
membuatku lebih betah berada di kosanku, oh ya di bedeng tersebut aku
nge-kost, dari pada harus keluar rumah tanpa tujuan. Sesekali aku juga
sering menonton film BF untuk memuaskan hasrat birahiku dan selalu
berakhir dengan beronani.

Cukup sudah pengantarnya ok. Sekarang lanjut ke pengalaman pertamaku
yang berawal dari tempat kost dimana aku tinggal. Disebelah (pintu no2)
tinggal seorang wanita muda sekitar 25 tahun bernama Desi tinggi 160
berat 50 kg yang bersuamikan seorang supir taxi tetapi sudah 7 tahun
belum dikarunia seorang anak. Pintu no3 ditempati oleh seorang wanita 35
tahun tinggi 165 berat 60 kg yang sudah memiliki 2 orang anak 7 dan 5
tahun yang semuanya perempuan, ia bernama Ita. Nah, dari sinilah
semuanya berawal.

Seperti biasa pada pagi hari semua penghuni bedeng sibuk dibelakang
(mandi, mencuci). Perlu diketahui bahwa kondisi di rumah ini memiliki 5
kamar mandi terpisah dari rumah dan 2 buah sumur (air harus diangkat ke
kamar mandi, maklum yang punya rumah belum punya Sanyo). Aku yang sudah
terbiasa mandi paling pagi sedang duduk santai sambil nonton TV. Lagi
asik nonton terdengar olehku gemercik air seperti orang sedang mandi.
Mulanya sih biasa saja, tapi lama kelamaan penasaran juga aku dibuatnya.
Aku mencoba melihat dari balik celah pintu belakang rumahku, dan aduh!!
betapa kagetnya aku ketika melihat Mbak Desi yang sedang mengeringkan
tubuhnya dengan handuk. Aku tidak tahu mengapa ia begitu berani untuk
membuka tubuhnya pada tempat terbuka seperti itu. Mbak desi yang sedikit
kurus ternyata memiliki payudara sekitar 32b dan sangat seksi sekali.
Dengan bentuknya yang kecil beserta puting warna merah jambu untuk orang
yang sudah menikah bentuknya masih sangat kencang.

Aku terus mengamati dari balik celah pintu, tanpa kusadari batang
kejantananku sudah mulai berdiri. Sudah tak tahan dengan pemandangan
tersebut aku langsung melakukan onani sambil membayangkan bercinta
dengan Mbak desi ditempat terbuka tersebut. Semenjak hal itu, aku jadi
ketagihan untuk selalu mengintip jika ada kesempatan. Keesokan harinya,
aku masih sangat terbayang-bayang akan bentuk tubuh Mbak desi. Hari itu
adalah hari minggu, dan aku sedikit kesiangan. Ketika aku keluar untuk
mandi, aku melihat Mbak Ita sedang mencuci pakaian. Dengan posisinya
yang menjongkok terlihat jelas olehku belahan payudaranya yang terlihat
sudah agak kendor tapi berukuran 34 b. Setiap kali aku memperhatikan
pantatnya, entah mengapa aku langsung bernafsu dibuatnya (mungkin
pengaruh film BF dengan doggy style yang kebetulan favoritku). Kembali
batang kemaluanku tegang dan seperti biasa aku melakukan onani di kamar
mandi.

Dua hari kemudian terjadi keributan di tetanggaku, yaitu Mbak ita yang
sedang bertengkar hebat dengan suaminya (seorang agen). Ia menangis dan
kulihat suaminya langsung pergi entah kemana. Aku yang kebetulan berada
disitu tidak bisa berbuat apa-apa. Yang ada dipikiranku adalah apa
sebenarnya yang sedang terjadi. Keesokan harinya Mbak Ita pergi dengan
kedua anaknya yang katanya kerumah nenek, dan kembali sorenya.

Sore itu aku baru akan mandi, begitu juga dengan Mbak ita. Setelah
selesai aku langsung buru-buru keluar dari kamar mandi karena
kedinginan. Diluar dugaanku ternyata aku menabrak sesuatu yang ternyata
adalah Mbak ita. Keadaan waktu itu sangat gelap (mati lampu) sehingga
kami saling bertubrukan. Menerima tubrukan itu, Mbak ita hampir jatuh
dibuatnya. Secara reflek aku langsung menangkap tubuhnya. AduH! Tenyata
aku tanpa sengaja telah menyentuh payudaranya. " Maaf.. Aduh maaf mbak,
nggak sengaja" ucapku. " Nggak, nggak pa pa kok, wong saya yang nggak
liat" balasnya.

Sejenak kami terdiam dikeheningan yang pada saat itu sama-sama merasakan
dinginnya angin malam. Tanpa dikomando, tubuh kami kembali saling
berdekatan setelah tadi sempat malu karena kecerobohan kami berdua. Aku
sangat degdegan dibuatnya dan tidak tahu harus berbuat apa pada posisi
seperti ini. Sepertinya Mbak ita mengetahui bahwa aku belum pengalaman
sama sekali. Ia kemudian mengambil inisiatif dan langsung memegang
kemaluanku yang berada dibalik handuk. Est ..est.. auw ..aku mengerang
keenakan. Belum selesai aku merasakan belaian tangannya, tiba-tiba ujung
kemaluanku terasa disentuh oleh benda lembut dan hangat. Mbak ita sudah
berada dibawahku denagn posisi jongkok sambil mengulum kemaluanku.
Aduuhh .. nikmatt.. terus .. Akh ..est .. Sekarang aku sudah telanjang
bulat dibuatnya.

10 menit sudah kemaluanku dikulum oleh Mbak ita. Aku yang tadi pemalu
sekarang mulai mengambil tindakan. Mbak ita kusuruh berdiri dihadapanku
dan langsung kulumat bibinya dengan lembut. Est .. Ah ..uh ouw .. Ia
mendesah ketika bibir kami saling berpagutan satu sama lain. Ciumanku
sekarang telah berada pada lehernya. Bau sabun mandi yang masih melekat
pada tubuhnya menambah gairahku. Est .. Ah .. teruss.. kepalanya
tengadah keatas menahan nikmat. Kini tiba saat yang kutunggu. Handuk
yang masih menutupi tubuhnya langsung kubuka tanpa hambatan. Secara
samar-samar dapat kulihat bentuk payudaranya. Kuremas dan kukecup dengan
lembut dan au ..est..nikmaat..teruss ..aow .., Mbak ita menahan nikmat.

Sambil terus mencicipi bagian tubuhnya akhirnya aku sampai juga didaerah
kemaluannya. Aku sedikit ragu untuk memcicipi kemaluanya yang sudah
sedikit basah itu. Seperti difilm BF aku mencoba mempraktekkan gaya
melumat kemaluan wanita. Kucoba sedikit dengan ujung lidahku, rasanya
ternyata sedikit asin dan berbau amis. Tetapi itu tidak menghentikanku
untuk terus menjilatinya. Semakin lama rasa jijik yang ada berubah
menjadi rasa ninkmat yang tiada tara. Est ..est ..teruuss
..tee..russ..auw ..nik, mat..mbak ita tak mampu menahan nikmat yang
diterimanya dari jilatan mautku yang sesekali kuiringi dengan memasukkan
jariku ke liang senggamanya. "Mbak mau .. kelu..ar ahh" racaunya.
Tanpa kusadari tiba-tiba keluar cairan kental dari vagina nya yang
belakangan kutau bahwa itu adalah cairan wanita. Aku belum berhenti dan
terus menjilati kemaluanya sampai bersih.

Puas aku menjilati kemaluannya kemudian langsung aku angkat ia kedalam
rumahnya menuju kamar tidurnya. Aduh .. benar-benar tak habis pikir
olehku, wanita segede ini bisa kuangkat dengan mudah. Sesampai
dikamarnya aku langsung terbaring dengan posisi terlentang. Mbak ita
tanpa diperintah sudah tahu apa yang kumau dan langsung mengambil posisi
berada diatasku. Oh ..ya pembaca, bahwa batang kemaluanku
standar-standar saja untuk orang Indonesia. Aku yang berada dibawah saat
itu sengaja tidak berbuat apa-apa dan membiarkan Mbak Ita mengambil
inisiatif untuk memuaskanku.

Mbak Ita langsung memegang kemaluanku dan mencoba memasukkannya kedalam
liang senggamanya. Blues..bleb.. tanpa hambatan batang kejantananku
tenggelam seluruhnya kedalam liang kenikmatan Mbak Ita.
Est..es..auw..oh..ah..aku hanya terpejam merasakan kemaluanku seperti
diperas-peras dan hangat sekali rasanya. Aku tak menyangka bahwa
kenikmatan bersenggama dengan wanita lebih nikmat dibanding dengan aku
beronani. Mbak Ita mulai menggenjot pantatnya secara perlahan tapi
pasti. Ah..ah..ah..oh..oh..nik..maatt..ahh.. Mbak Ita terus melakukan
gerakan yang sangat erotis. Desahan Mbak Ita membuatku semakin bernafsu
ditambah dengan payudaranya bergoyang kesana-kemari. Rupanya aku tak
bisa lagi tinggal diam. Aku berusaha mengimbangi genjotan Mbak Ita
sehingga irama genjotan itu sangat merdu dan konstan. Tangankupun tidak
mau kalah dengan pantatku.

Aku berusaha mencapai kedua payudara yang ada didepan mataku itu. "Wah
..indahnya pemandangan ini" ucapku dalam hati. Tidak puas dengan hanya
menyentuh payudara Mbak Ita, aku langsung mengambil posisi duduk
sehingga payudara Mbak ita tepat berada didepan wajahku. Kembali aku
melumat putingnya dengan lembut kiri dan kanan bergantian. Ahh..ah
..ah..oh.. Est..ss Mbak ita kelihatannya tak tahan menahan nikmat dengan
perlakuanku ini. Lama kelamaan genjotan Mbak Ita semakin cepat dan
aku..a..ku.. kee..luuarr..ahh..ohh..nikmaatt Mbak ita akhirnya mencapai
klimaks yang kedua kalinya. Aku yang belum apa-apa merasa kesal tidak
bisa klimaks secara bersamaan. Akhirnya aku meminta Mbak Ita untuk
kembali mengulum kemaluanku. Mbak Ita yang sudah mendapat kepuasan
dengan semangat mengulum dan menjilati kemaluanku. Est..est..ahh..oh
ucapku ketika Mbak Ita semakin mempercepat kuluman dan kocokannya pada
kemaluanku. Sepertinya ia ingin segera memuaskanku dan menikmati air
kejantananku.

Selang 10 menit ah..auw..oh..nik..maatt..oh.. crot..crot..crot..semua
air maniku tertumpah diwajah Mbak Ita dan diseluruh tubuhnya. Saat itu
Mbak Ita tidak berhenti kulumannya dan menjilati seluruh air jantan
tersebut. Aku sangat ngilu dibuatnya tapi sungguh masih sangat nikmat
sekali.

Setelah merasakan kepuasan yag tiada tara kami langsung jatuh terkulai
diatas kasur. Mbak Ita tampaknya sangat kelelahan dan langsung tertidur
pulas dengan keadaan telanjang bulat. Aku yang takut nanti ketahuan
orang lain langsung keluar dari kamar tersebut dan mengambil handukku
menuju rumahku.

Ketika aku baru akan keluar dari rumah Mbak Ita, alangkah terkejutnya
aku ketika dihadapanku ada seorang wanita yang kuduga sudah berdiri
disitu dari tadi dan menyaksikan semua perbuatan kami.
Eh..mm..mbak..mbak ..Desi..ternyata ia tidak lain adalah Mbak Desi.
"Permisi mbak, aku mau masuk dulu" ucapku pura-pura tidak ada yang
terjadi. Sambil berjalan tergesa-gesa aku langsung menuju rumahku untuk
menghindari introgasi dari Mbak Desi. Tiba-tiba "tunggu!!" teriak Mbak
Desi. Aku langsung panas dingin dibuatnya. "Jangan jangan ia akan
melaporkanku ke Kepala Desa lagi" ucapku dalam hati." Aduuhh gawat nih,
bisa-bisa cuci kampung" pikirku. " A..a..ada apa ya mbak" balasku. Mbak
Desi langsung mendekatku dan berkata " kamu akan aku laporkan kesuami
Mbak Ita dan kepala desa atas apa yang telah kamu lakukan" ucap Mbak
Desi. " Ta..tapi kami melakukannya atas dasar suka sama suka Mbak "
balasku dengan perasaan sedikit cemas. Tiba-tiba " ha..ha..ha..ha.. "
Mbak desi tertawa.

Aku semakin bingung dibuatnya karena mungkin Mbak desi punya dendam dan
sekarang berhasil membalaskannya. " Nggak usah takut, pokoknya sekarang
kamu tetap berdiri disitu dan jangan sekali-kali bergerak ok!" usulnya.
"Mbak mau melaporkan saya atau takut saya lari" ucapku semakin bingung.
Tanpa bicara lagi Mbak Desi semakin mendekatiku. Setelah tidak ada lagi
jarak diantara kami tangan Mbak Desi langsung melepas handuk yang
kugunakan tadi sehingga aku kembali telanjang bulat."Mbak jangan
dikebiri ya.." ucapku."Nnggak..nggak pa pa kok" balasnya. Mbak Desi
ternyata langsung berjongkok dan mulai mengocok kemaluanku.

Ah..ah..oh..oh.. aku yang tadi lemas kembali bergairah dibuatnya. Belum
lagi aku selesai merasakan nikmatnya kocokan lembut dari tangan Mbak
Desi, aku kembali merasakan ada benda lembut, hangat dan basah menyentuh
kepala kemaluanku. Aku langsung tahu bahwa itu adalah kuluman dan
jilatan dari mulut Mbak Desi setelah tadi aku merasakannya dengan Mbak
Ita. Kuluman dan jilatan Mbak Desi ternyata lebih nikmat dari Mbak Ita.
Aku bertaruh bahwa Mbak Desi telah melakukan berbagai macam gaya dan
variasi dengan suaminya untuk memperoleh keturunan.
Estt..ah..oh..oh..aduhh..auw.. desahku menahan hebatnya kuluman Mbak
Desi. 15 menit sudah acara kulum-kuluman itu dan sekarang Mbak Desi
telah berganti posisi dengan menungging. Pantatnya yang kecil namun
berisi itu sekarang menantangku untuk ditusuk segera dengan rudalku.
"Ayo..cepetan..kamu sudah lama menginginkan ini kan..Mbak tau kamu
sering ngintip dari celah pintu itu..ayoo masukkan dong" ucapnya dengan
mesra.

Aku jadi malu dibuatnya bahwa selama ini ia tahu akan perbuatanku. Tanpa
pikir panjang aku langsung mencoba memasukkan batang kemaluanku ke liang
kenikmatan Mbak Desi. "Aduh!!" meleset pada tusukanku yang pertama. Aku
kembali mecoba dan bluess..akhirnya aku berhasil juga. "Gila nih
perempuan "pikirku, "ternyata lubang kemaluannya masih sempit sekali"
ucapku. Perlahan aku coba menggoyangkan pantatku mau-mundur.
Ah.ah..ahh..oh..oh..oh..ah.. Mbah Desi mulai mendesah menahan nikmat.
Aku semakin mempercepat goyanganku karena memang ini adalah gaya
favoritku. "Ayo..teruuss..ayo.." teriakku memberi semangat".
Ah..ah..ah..oh..desah Mbak Desi semakin terdengar kencang. Melihat
payudaranya yang bergelantung dan bergoyang-goyang membuatku ingin
mewujudkan impianku selama ini. Sambil terus menggenjot Mbak Desi aku
berusaha mencapai payudaranya. Kuremas-remas dengan garangnya seolah
meremas santan kelapa. Aw..sakiitt..adu..hh..ah..ah.. Mbak Ita tak tahan
akan perlakuanku. Aku tidak memperdulikannya dan tetap menggenjot dengan
cepat.

Kemudian aku mengganti posisi dengan menggendong Mbak Desi didepanku.
Bluess.. Kembali batang kejantananku kumasukkan kedalam liang
senggamanya. Ahh..ah..ah..ah..desah Mbak Desi menahan nikmat. Kulumat
bibir dan kuciumi seluruh leher dan kukecup kedua puting susunya yang
merah itu. Adu..nikkmatt sekaalii ah..ah..ah..oh..oh.. Mendapat
perlakuan demikian bertubi-tubi akhirnya Mbak Desi tak sanggup lagi
menahan klimaksnya "Keeluuarr ..mau..ke..lua..rr akhirnya Mbak Desi
mencapai klimaksnya. Aku yang sedikit lagi juga hampil finish semakin
menggenjot dengan cepat."Blep..blep..blep..bunyi hentakan sodokan antara
kemaluanku dan kemaluan Mbak Desi yang sudah sangat basah tersebut.
Tidak lama kemudian aku merasakan ada denyut-denyut di ujung batang
kemaluanku dan:"Crot..crot..crot..tumpahlah seluruh iir maniku kedalam
liang senggamanya.

Setelah itu kami berciuman sambil merasakan sisa-sisa nikmat yang ada
dan kembali kerumah masing-masing. Keesokan harinya ketika bertemu, kami
seolah-olah tidak merasakan sesuatu terjadi. Pembaca sekalian rupanya
Mbak Ita tidak mau lagi berbicara denganku semenjak kejadian itu tapi
aku terkadang masih melakukan hubungan sex ini hanya dengan Mbak Desi
saja ketika saya sedang ingin atau ia sedang sangat ingin melakukannya.
Sekarang saya sudah selesai kuliah dan tidak lagi tinggal dibedengan
itu. Saya masih sangat merindukan untuk kembali berhubunagn sex dengan
Mbak Desi atau Mbak Ita karena mereka telah membuat saya tidak virgin lagi.

Tiga Wanita Satu Lelaki

Namaku Jackie dan tentunya bukan nama asliku. Aku adalah pria yang
kurang beruntung, karena sudah dua kali ingin berniat untuk berkeluarga
dan dua-duanya gagal. Aku berasal dari Indonesia, tapi sudah lama sekali
tinggal di negerinya "kanguru". Dan atas saran teman-teman, maka aku
mensponsori seorang cewek dari Indonesia dengan niat untuk menikah. Tapi
setelah wanita itu mendapatkan izin tinggal tetap di negeri ini, wanita
itu meninggalkan aku. Begitu juga dengan yang kedua, yang berasal dari
Amerika Latin. Nah, karena rumah yang kumiliki ini mempunyai dua kamar
dan karena aku hanya tinggal sendiri sekaligus sudah kapok untuk mencari
pasangan lagi, maka kamar yang satunya aku sewakan pada seorang pelajar
(cowok) dari Jepang. Namanya Gamhashira. Gamha yang playboy ini sudah
dua hari pulang ke negerinya untuk berlibur setelah menamatkan SMA-nya.

Pada suatu sore di hari libur (liburan dari kerja) aku buang waktu
dengan main internet, lebih kurang satu setengah jam bermain internet,
tiba-tiba terdengar suara bel. Setengah kesal aku hampiri juga pintu
rumahku, dan setelah aku mengintip dari lubang kecil di pintu, kulihat
tiga orang gadis. Kemudian kubuka pintu dan bertanya (maaf langsung aku
terjemahkan saja ke bahasa Indonesia semua percakapan kami),
"Bisa saya bantu?" kataku kepada mereka.
"Maaf, kami sangat mengganggu, kami mencari Gamha dan sudah satu jam
lebih kami coba untuk telepon tapi kedengarannya sibuk terus, maka kami
langsung saja datang."
Yang berwajah Jepang /nyerocos/ seperti kereta express di negerinya.
"Oh, soalnya saya lagi main internet, maklumlah soalnya hanya satu
sambungan saja telepon saya," jawabku.
"Memangnya kalian tidak tahu kalau si Gamha sedang pulang kampung dua
hari yang lalu?" lanjutku lagi.

Kali ini yang bule berambut sebahu dengan kesal menjawab, "Kurang ajar
si Gamha, katanya bulan depan pulangnya, Jepang sialan tuh!"
"Eh! Kesel sih boleh, tapi jangan bilang Jepang sialan dong. Gua
tersinggung nih," yang berwajah Jepang protes.
"Sudahlah, memang belum rejeki kita dijajanin sama si Gamha," sekarang
bule bermata biru nyeletus.
Dengan setengah bingung karena tidak mengerti persoalannya, kupersilakan
mereka untuk masuk. Mulanya mereka ragu-ragu, akhirnya mereka masuk
juga. "Iya deh, sekalian numpang minum," kata bule yang berambut panjang
masih kedengaran kesalnya.

Setelah mereka duduk, kami memperkenalkan nama kami masing-masing.
"Nama saya Jacky," kataku.
"Khira," kata yang berwajah Jepang (dan memang orang Jepang).
Yang berambut panjang menyusul, "Emily," (Campuran Italia dengan Inggris).
"Saya Eve," gadis bermata biru ini asal Jerman.
"Jacky, kamu berasal dari mana?" lanjutnya.
"Jakarta, Indonesia," jawabku sambil menuju ke lemari es untuk
mengambilkan minuman sesuai permintaan mereka.
Sekembalinya saya ke ruang tamu dimana mereka duduk, ternyata si Khira
dan Eve sudah berada di ruang komputer saya, yang memang bersebelahan
dengan ruang tamu dan tidak dibatasi apa-apa.
"Aduh, panas sekali nich?!" si Emily ngedumel sambil membuka kemeja
luarnya.

Memang di awal bulan Desember lalu, Australia ini sedang panas-panasnya.
Aku tertegun sejenak, karena bersamaan dengan aku meletakkan minuman di
atas meja, Emily sudah melepaskan kancing terakhirnya. Sehingga dengan
jelas dapat kulihat bagian atas bukit putih bersih menyembul, walaupun
masih terhalangi kaos bagian bawahnya. Tapi membuatku sedikit menelan
ludah. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara si Eve,
"Jacky, boleh kami main internetnya?"
"Silakan," jawabku.
Aku tidak keberatan karena aku membayar untuk yang tidak terbatas
penggunaannya.
"Mau nge-chat yah?" tanyaku sambil tersenyum pada si Emily.
"Ah, paling-paling mau lihat gambar gituan," lanjut Emily lagi.
"Eh, kaliankan masih di bawah umur?" kataku mencoba untuk protes.
"Paling umur kalian 17 tahun kan?" sambungku lagi.

Khira menyambut, "Tahun ini kami sudah 18 tahun. Hanya tinggal beberapa
bulan saja." Aku tidak bisa bilang apa-apa lagi. Baru saja aku ngobrol
dengan si Emily, si Eve datang lagi menanyakan, apa saya tahu site-nya
gambar "gituan" yang gratis. Lalu sambil tersenyum saya hampiri
komputer, kemudian saya ketikkan salah satu situs seks anak belasan
tahun gratis kesukaanku. Karena waktu mengetik sambil berdiri dan si
Khira duduk di kursi meja komputer, maka dapat kulihat dengan jelas ke
bawah bukitnya si Khira yang lebih putih dari punyanya si Emily.
Barangku terasa berdenyut. Setengah kencang. Setelah gambar keluar, yang
terpampang adalah seorang negro sedang mencoba memasuki barang besarnya
ke lubang kecil milik gadis belasan. Sedangkan mulut gadis itu sudah
penuh dengan barang laki-laki putih yang tak kalah besar barangnya
dengan barang si negro itu. Terasa barangku kini benar-benar kencang
karena nafsu dengan keadaan. Si Emily menghampiri kami berada, karena si
Eve dan Khira tertawa terbahak-bahak melihat gambar itu. Aku mencoba
menghindar dari situ, tapi tanpa sengaja sikut Khira tersentuh barangku
yang hanya tertutup celana sport tipis. Baru tiga langkah aku menghindar
dari situ, kudengar suara tawa mereka bertambah kencang, langsung aku
menoleh dan bertanya, "Ada apa?" Eve menjawab, "Khira bilang, sikutnya
terbentur barangmu," katanya.

Aku benar-benar malu dibuatnya. Tapi dengan tersenyum aku menjawab,
"Memangnya kenapa, kan wajar kalau saya merasa terangsang dengan gambar
itu. Itu berarti aku normal." Kulihat lagi mereka berbisik, kemudian
mereka menghampiriku yang sedang mencoba untuk membetulkan letak
barangku. Si Eve bertanya padaku sambil tersipu,
"Jacky, boleh nggak kalau kami lihat barangmu?"
Aku tersentak dengan pertanyaan itu.
"Kalian ini gila yah, nanti aku bisa masuk penjara karena dikira
memperkosa anak di bawah umur."
(Di negeri ini di bawah 18 tahun masih dianggap bawah umur).
"Kan tidak ada yang tahu, lagi pula kami tidak akan menceritakan pada
siapa-siapa, sungguh kami janji," si Emily mewakili mereka.
"Please Jacky!" sambungnya.
"Oke, tapi jangan diketawain yah!" ancamku sambil tersenyum nafsu.

Dengan cepat kuturunkan celana sport-ku dan dengan galak barangku
mencuat dari bawah ke atas dengan sangat menantang. Lalu segera
terdengar suara terpekik pendek hampir berbarengan.
"Gila gede banget!" kata mereka hampir berbarengan lagi.
"Nah! Sekarang apa lagi?" tanyaku.
Tanpa menjawab Khira dan Emily menghampiriku, sedangkan Eve masih
berdiri tertegun memandang barangku sambil tangan kanannya menutup
mulutnya sedangkan tangan kirinya mendekap selangkangannya. "Boleh
kupegang Jack?" tanya Khira sambil jari telunjuknya menyentuh kepala
barangku tanpa menunggu jawabanku. Aku hanya bisa menjawab, "Uuuh.."
karena geli dan nikmat oleh sentuhannya. Sedang Eve masih saja mematung,
hanya jari-jari tangan kirinya saja yang mulai meraih-raih sesuatu di
selangkangannya. Lain dengan Emily yang sedang mencoba menggenggam
barangku, dan aku merasa sedikit sakit karena Emily memaksakan jari
tengahnya untuk bertemu dengan ibu jarinya. Tiba-tiba Emily, hentikan
kegiatannya dan bertanya padaku, "Kamu punya film biru Jack?" Sambil
terbata-bata kusuruh Eve untuk membuka laci di bawah TV-ku dan minta Eve
lagi untuk masukan saja langsung ke video.

Waktu mulai diputar gambarnya bukan lagi dari awal, tapi sudah di
pertengahan. Yang tampak adalah seorang laki-laki 60 tahun sedang
dihisap barangnya oleh gadis belasan tahun. Kontan saja si Eve menghisap
jarinya yang tadinya dipakai untuk menutup mulut sedangkan jari tangan
kirinya masih kembali ke tugasnya. Pandanganku sayup, dan terasa benda
lembut menyapu kepala barangku dan benda lembut lainnya menyapu bijiku.
Aku mencoba untuk melihat ke bawah, ternyata lidah Khira di bagian
kepala dan lidah Emily di bagian bijiku.
"Uuh.. sshh.. uuhh.. sshh.." aku merasa nikmat.
Kupanggil Eve ke sampingku dan kubuka dengan tergesa-gesa kaos dan
BH-nya. Tanpa sabar kuhisap putingnya dan segera terdengar nafas Eve
memburu.
"Jacky.. oohh.. Jacky.. teruss.. oohh.." nikmat Eve terdengar.
Kemudian terasa setengah barangku memasuki lubang hangat, ternyata mulut
Khira sudah melakukan tugasnya walaupun tidak masuk semua tapi
dipaksakan olehnya.
"Slep.. slep.. chk.. chk.."
Itulah yang terdengar paduan suara antara barangku dan mulut Khira.
Emily masih saja menjilat-jilat bijiku.

Dengan kasar Eve menarik kepalaku untuk kembali ke putingnya. Kurasakan
nikmat tak ketulungan. Kuraih bahu Emily untuk bangun dan menyuruhnya
untuk berbaring di tempat duduk panjang. Setelah kubuka semua penghalang
kemaluannya langsung kubuka lebar kakinya dan wajahku tertanam di
selangkangannya.
"Aaahh.. Jacky.. aahh.. enak Jacky.. teruskan.. aahh.. teruss Jacky!"
jerit Emily.
Ternyata Eve sudah bugil, tangannya dengan gemetar menarik tanganku ke
arah barangnya. Aku tahu maksudnya, maka langsung saja kumainkan jari
tengahku untuk mengorek-ngorek biji kecil di atas lubang nikmatnya.
Terasa basah barang Eve, terasa menggigil barang Eve.
"Aaahh.." Eve sampai puncaknya.

Aku pun mulai merasa menggigil dan barangku terasa semakin kencang di
mulut Khira, sedangkan mulutku belepotan di depan barang Emily, karena
Emily tanpa berteriak sudah menumpahkan cairan nikmatnya. Aku tak tahan
lagi, aku tak tahan lagi, "Aahh.." Sambil meninggalkan barang Emily,
kutarik kepala Khira dan menekannya ke arah barangku. Terdengar,
"Heerrkk.." Rupanya Khira ketelak oleh barangku dan mencoba untuk
melepaskan barangku dari mulutnya, tapi terlambat cairan kentalku
tersemprot ke tenggorokannya. Kepalanya menggeleng-geleng dan tangannya
mencubit tanganku yang sedang menekan kepalanya ke arah barangku.
Akhirnya gelengannya melemah Khira malah memaju mundurkan kepalanya
terhadap barangku. Aku merasa nikmat dan ngilu sekali, "Sudah.. sudah..
aku ngiluu.. sudah.." pintaku. Tapi Khira masih saja melakukannya.
Kakiku gemetar, gemetar sekali. Akhirnya kuangkat kepala Khira, kutatap
wajahnya yang berlumuran dengan cairanku. Khira menatapku sendu, sendu
sekali dan kudengar suara lembut dari bibirnya, "I Love you, Jacky!" aku
tak menjawab. Apa yang harus kujawab! Hanya kukecup lembut keningnya dan
berkata, "Thank you Khira!"

Rasa nikmatku hilang seketika, aku tak bernafsu lagi walaupun kulihat
Eve sedang memainkan klitorisnya dengan jarinya dan Emily yang ternganga
memandang ke arahku dan Khira. Mungkin Emily mendengar apa yang telah
diucapkan oleh Khira. Demikianlah, kejadian demi kejadian terus
berlangsung antara kami. Kadang hanya aku dengan salah satu dari mereka,
kadang mereka berdua saja denganku. Aku masih memikirkan apa yang telah
diucapkan oleh Khira. Umurku lebih 10 tahun darinya. Dan sekarang Khira
lebih sering meneleponku di rumah maupun di tempat kerjaku. Hanya untuk
mendengar jawabanku atas cintanya. Dan belakangan aku dengar Eve dan
Emily sudah jarang bergaul dengan Khira.
cerita 17 tahun, cerita dewasa, cerita, cerita sex, cerita seks, cerita cerita seks, cerita panas, koleksi cerita seks, cerita seru, cerita lucah, indonesia cerita dewasa, cerita sedap, cerita perkosaan, cerita sex melayu, cerita seks melayu, cerita porn, cerita lucu, cerita cerita tentang seks, cerita seks malaysia, koleksi cerita lucah, cerita melayu, cerita cipap, cerita pantat, kumpulan cerita seks melayu, cerita 17 tahun, 17 tahun, 17 tahun gadis telanjang, gadis 17 tahun