Kumpulan cerita 17 tahun, cerita dewasa, cerita, cerita sex, cerita seks, cerita cerita seks

Monday, 19 November 2007

Tiga Wanita Satu Lelaki

Namaku Jackie dan tentunya bukan nama asliku. Aku adalah pria yang
kurang beruntung, karena sudah dua kali ingin berniat untuk berkeluarga
dan dua-duanya gagal. Aku berasal dari Indonesia, tapi sudah lama sekali
tinggal di negerinya "kanguru". Dan atas saran teman-teman, maka aku
mensponsori seorang cewek dari Indonesia dengan niat untuk menikah. Tapi
setelah wanita itu mendapatkan izin tinggal tetap di negeri ini, wanita
itu meninggalkan aku. Begitu juga dengan yang kedua, yang berasal dari
Amerika Latin. Nah, karena rumah yang kumiliki ini mempunyai dua kamar
dan karena aku hanya tinggal sendiri sekaligus sudah kapok untuk mencari
pasangan lagi, maka kamar yang satunya aku sewakan pada seorang pelajar
(cowok) dari Jepang. Namanya Gamhashira. Gamha yang playboy ini sudah
dua hari pulang ke negerinya untuk berlibur setelah menamatkan SMA-nya.

Pada suatu sore di hari libur (liburan dari kerja) aku buang waktu
dengan main internet, lebih kurang satu setengah jam bermain internet,
tiba-tiba terdengar suara bel. Setengah kesal aku hampiri juga pintu
rumahku, dan setelah aku mengintip dari lubang kecil di pintu, kulihat
tiga orang gadis. Kemudian kubuka pintu dan bertanya (maaf langsung aku
terjemahkan saja ke bahasa Indonesia semua percakapan kami),
"Bisa saya bantu?" kataku kepada mereka.
"Maaf, kami sangat mengganggu, kami mencari Gamha dan sudah satu jam
lebih kami coba untuk telepon tapi kedengarannya sibuk terus, maka kami
langsung saja datang."
Yang berwajah Jepang /nyerocos/ seperti kereta express di negerinya.
"Oh, soalnya saya lagi main internet, maklumlah soalnya hanya satu
sambungan saja telepon saya," jawabku.
"Memangnya kalian tidak tahu kalau si Gamha sedang pulang kampung dua
hari yang lalu?" lanjutku lagi.

Kali ini yang bule berambut sebahu dengan kesal menjawab, "Kurang ajar
si Gamha, katanya bulan depan pulangnya, Jepang sialan tuh!"
"Eh! Kesel sih boleh, tapi jangan bilang Jepang sialan dong. Gua
tersinggung nih," yang berwajah Jepang protes.
"Sudahlah, memang belum rejeki kita dijajanin sama si Gamha," sekarang
bule bermata biru nyeletus.
Dengan setengah bingung karena tidak mengerti persoalannya, kupersilakan
mereka untuk masuk. Mulanya mereka ragu-ragu, akhirnya mereka masuk
juga. "Iya deh, sekalian numpang minum," kata bule yang berambut panjang
masih kedengaran kesalnya.

Setelah mereka duduk, kami memperkenalkan nama kami masing-masing.
"Nama saya Jacky," kataku.
"Khira," kata yang berwajah Jepang (dan memang orang Jepang).
Yang berambut panjang menyusul, "Emily," (Campuran Italia dengan Inggris).
"Saya Eve," gadis bermata biru ini asal Jerman.
"Jacky, kamu berasal dari mana?" lanjutnya.
"Jakarta, Indonesia," jawabku sambil menuju ke lemari es untuk
mengambilkan minuman sesuai permintaan mereka.
Sekembalinya saya ke ruang tamu dimana mereka duduk, ternyata si Khira
dan Eve sudah berada di ruang komputer saya, yang memang bersebelahan
dengan ruang tamu dan tidak dibatasi apa-apa.
"Aduh, panas sekali nich?!" si Emily ngedumel sambil membuka kemeja
luarnya.

Memang di awal bulan Desember lalu, Australia ini sedang panas-panasnya.
Aku tertegun sejenak, karena bersamaan dengan aku meletakkan minuman di
atas meja, Emily sudah melepaskan kancing terakhirnya. Sehingga dengan
jelas dapat kulihat bagian atas bukit putih bersih menyembul, walaupun
masih terhalangi kaos bagian bawahnya. Tapi membuatku sedikit menelan
ludah. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara si Eve,
"Jacky, boleh kami main internetnya?"
"Silakan," jawabku.
Aku tidak keberatan karena aku membayar untuk yang tidak terbatas
penggunaannya.
"Mau nge-chat yah?" tanyaku sambil tersenyum pada si Emily.
"Ah, paling-paling mau lihat gambar gituan," lanjut Emily lagi.
"Eh, kaliankan masih di bawah umur?" kataku mencoba untuk protes.
"Paling umur kalian 17 tahun kan?" sambungku lagi.

Khira menyambut, "Tahun ini kami sudah 18 tahun. Hanya tinggal beberapa
bulan saja." Aku tidak bisa bilang apa-apa lagi. Baru saja aku ngobrol
dengan si Emily, si Eve datang lagi menanyakan, apa saya tahu site-nya
gambar "gituan" yang gratis. Lalu sambil tersenyum saya hampiri
komputer, kemudian saya ketikkan salah satu situs seks anak belasan
tahun gratis kesukaanku. Karena waktu mengetik sambil berdiri dan si
Khira duduk di kursi meja komputer, maka dapat kulihat dengan jelas ke
bawah bukitnya si Khira yang lebih putih dari punyanya si Emily.
Barangku terasa berdenyut. Setengah kencang. Setelah gambar keluar, yang
terpampang adalah seorang negro sedang mencoba memasuki barang besarnya
ke lubang kecil milik gadis belasan. Sedangkan mulut gadis itu sudah
penuh dengan barang laki-laki putih yang tak kalah besar barangnya
dengan barang si negro itu. Terasa barangku kini benar-benar kencang
karena nafsu dengan keadaan. Si Emily menghampiri kami berada, karena si
Eve dan Khira tertawa terbahak-bahak melihat gambar itu. Aku mencoba
menghindar dari situ, tapi tanpa sengaja sikut Khira tersentuh barangku
yang hanya tertutup celana sport tipis. Baru tiga langkah aku menghindar
dari situ, kudengar suara tawa mereka bertambah kencang, langsung aku
menoleh dan bertanya, "Ada apa?" Eve menjawab, "Khira bilang, sikutnya
terbentur barangmu," katanya.

Aku benar-benar malu dibuatnya. Tapi dengan tersenyum aku menjawab,
"Memangnya kenapa, kan wajar kalau saya merasa terangsang dengan gambar
itu. Itu berarti aku normal." Kulihat lagi mereka berbisik, kemudian
mereka menghampiriku yang sedang mencoba untuk membetulkan letak
barangku. Si Eve bertanya padaku sambil tersipu,
"Jacky, boleh nggak kalau kami lihat barangmu?"
Aku tersentak dengan pertanyaan itu.
"Kalian ini gila yah, nanti aku bisa masuk penjara karena dikira
memperkosa anak di bawah umur."
(Di negeri ini di bawah 18 tahun masih dianggap bawah umur).
"Kan tidak ada yang tahu, lagi pula kami tidak akan menceritakan pada
siapa-siapa, sungguh kami janji," si Emily mewakili mereka.
"Please Jacky!" sambungnya.
"Oke, tapi jangan diketawain yah!" ancamku sambil tersenyum nafsu.

Dengan cepat kuturunkan celana sport-ku dan dengan galak barangku
mencuat dari bawah ke atas dengan sangat menantang. Lalu segera
terdengar suara terpekik pendek hampir berbarengan.
"Gila gede banget!" kata mereka hampir berbarengan lagi.
"Nah! Sekarang apa lagi?" tanyaku.
Tanpa menjawab Khira dan Emily menghampiriku, sedangkan Eve masih
berdiri tertegun memandang barangku sambil tangan kanannya menutup
mulutnya sedangkan tangan kirinya mendekap selangkangannya. "Boleh
kupegang Jack?" tanya Khira sambil jari telunjuknya menyentuh kepala
barangku tanpa menunggu jawabanku. Aku hanya bisa menjawab, "Uuuh.."
karena geli dan nikmat oleh sentuhannya. Sedang Eve masih saja mematung,
hanya jari-jari tangan kirinya saja yang mulai meraih-raih sesuatu di
selangkangannya. Lain dengan Emily yang sedang mencoba menggenggam
barangku, dan aku merasa sedikit sakit karena Emily memaksakan jari
tengahnya untuk bertemu dengan ibu jarinya. Tiba-tiba Emily, hentikan
kegiatannya dan bertanya padaku, "Kamu punya film biru Jack?" Sambil
terbata-bata kusuruh Eve untuk membuka laci di bawah TV-ku dan minta Eve
lagi untuk masukan saja langsung ke video.

Waktu mulai diputar gambarnya bukan lagi dari awal, tapi sudah di
pertengahan. Yang tampak adalah seorang laki-laki 60 tahun sedang
dihisap barangnya oleh gadis belasan tahun. Kontan saja si Eve menghisap
jarinya yang tadinya dipakai untuk menutup mulut sedangkan jari tangan
kirinya masih kembali ke tugasnya. Pandanganku sayup, dan terasa benda
lembut menyapu kepala barangku dan benda lembut lainnya menyapu bijiku.
Aku mencoba untuk melihat ke bawah, ternyata lidah Khira di bagian
kepala dan lidah Emily di bagian bijiku.
"Uuh.. sshh.. uuhh.. sshh.." aku merasa nikmat.
Kupanggil Eve ke sampingku dan kubuka dengan tergesa-gesa kaos dan
BH-nya. Tanpa sabar kuhisap putingnya dan segera terdengar nafas Eve
memburu.
"Jacky.. oohh.. Jacky.. teruss.. oohh.." nikmat Eve terdengar.
Kemudian terasa setengah barangku memasuki lubang hangat, ternyata mulut
Khira sudah melakukan tugasnya walaupun tidak masuk semua tapi
dipaksakan olehnya.
"Slep.. slep.. chk.. chk.."
Itulah yang terdengar paduan suara antara barangku dan mulut Khira.
Emily masih saja menjilat-jilat bijiku.

Dengan kasar Eve menarik kepalaku untuk kembali ke putingnya. Kurasakan
nikmat tak ketulungan. Kuraih bahu Emily untuk bangun dan menyuruhnya
untuk berbaring di tempat duduk panjang. Setelah kubuka semua penghalang
kemaluannya langsung kubuka lebar kakinya dan wajahku tertanam di
selangkangannya.
"Aaahh.. Jacky.. aahh.. enak Jacky.. teruskan.. aahh.. teruss Jacky!"
jerit Emily.
Ternyata Eve sudah bugil, tangannya dengan gemetar menarik tanganku ke
arah barangnya. Aku tahu maksudnya, maka langsung saja kumainkan jari
tengahku untuk mengorek-ngorek biji kecil di atas lubang nikmatnya.
Terasa basah barang Eve, terasa menggigil barang Eve.
"Aaahh.." Eve sampai puncaknya.

Aku pun mulai merasa menggigil dan barangku terasa semakin kencang di
mulut Khira, sedangkan mulutku belepotan di depan barang Emily, karena
Emily tanpa berteriak sudah menumpahkan cairan nikmatnya. Aku tak tahan
lagi, aku tak tahan lagi, "Aahh.." Sambil meninggalkan barang Emily,
kutarik kepala Khira dan menekannya ke arah barangku. Terdengar,
"Heerrkk.." Rupanya Khira ketelak oleh barangku dan mencoba untuk
melepaskan barangku dari mulutnya, tapi terlambat cairan kentalku
tersemprot ke tenggorokannya. Kepalanya menggeleng-geleng dan tangannya
mencubit tanganku yang sedang menekan kepalanya ke arah barangku.
Akhirnya gelengannya melemah Khira malah memaju mundurkan kepalanya
terhadap barangku. Aku merasa nikmat dan ngilu sekali, "Sudah.. sudah..
aku ngiluu.. sudah.." pintaku. Tapi Khira masih saja melakukannya.
Kakiku gemetar, gemetar sekali. Akhirnya kuangkat kepala Khira, kutatap
wajahnya yang berlumuran dengan cairanku. Khira menatapku sendu, sendu
sekali dan kudengar suara lembut dari bibirnya, "I Love you, Jacky!" aku
tak menjawab. Apa yang harus kujawab! Hanya kukecup lembut keningnya dan
berkata, "Thank you Khira!"

Rasa nikmatku hilang seketika, aku tak bernafsu lagi walaupun kulihat
Eve sedang memainkan klitorisnya dengan jarinya dan Emily yang ternganga
memandang ke arahku dan Khira. Mungkin Emily mendengar apa yang telah
diucapkan oleh Khira. Demikianlah, kejadian demi kejadian terus
berlangsung antara kami. Kadang hanya aku dengan salah satu dari mereka,
kadang mereka berdua saja denganku. Aku masih memikirkan apa yang telah
diucapkan oleh Khira. Umurku lebih 10 tahun darinya. Dan sekarang Khira
lebih sering meneleponku di rumah maupun di tempat kerjaku. Hanya untuk
mendengar jawabanku atas cintanya. Dan belakangan aku dengar Eve dan
Emily sudah jarang bergaul dengan Khira.

1 comment:

you gaa said...

Cewe' kesepian
Elvira Putri Mayasari
Pin bb : 24C1983F
Nope : 081225231313

cerita 17 tahun, cerita dewasa, cerita, cerita sex, cerita seks, cerita cerita seks, cerita panas, koleksi cerita seks, cerita seru, cerita lucah, indonesia cerita dewasa, cerita sedap, cerita perkosaan, cerita sex melayu, cerita seks melayu, cerita porn, cerita lucu, cerita cerita tentang seks, cerita seks malaysia, koleksi cerita lucah, cerita melayu, cerita cipap, cerita pantat, kumpulan cerita seks melayu, cerita 17 tahun, 17 tahun, 17 tahun gadis telanjang, gadis 17 tahun